Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Wilasita (2)

Sat, 20 Nov 2021, 13:11:16, 1140 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam kasih,

Setelah dalam renungan yang terdahulu kita membicarakan kecenderungan kasar yang mudah dilihat dan dirasakan, maka sekarang kita melihat kenikmatan-kenikmatan halus.

Ketika seorang pemedang telah berhasil mengontrol (jangan dibaca: bebas) dorongandorongan tersebut, maka akan tumbuh dengan sendirinya keinginan dari dalam batin untuk mencari suatu kenikmatan indah.., kenikmatan ke dalam..., jauh dan jauh... kedalam sang diri. Mengingat pencapaian kenikmatan ke dalam merupakan usaha yang cukup berat, maka seorang pemedang akan berusaha mengetahui apa-apa saja yang akan menghalanginya untuk pencapaian kenikmatan kedalam tersebut.

Pencarian yang tulus akan memberikan hasil berupa pengelihatan, bahwa penghalangnya ternyata adalah kenikmatan duniawi yang kasar dan halus. Khususnya kenikmatan duniawi halus, yang juga ternyata berjumlah ribuan atau bahkan jutaan jenis kenikmatan. Seluruh kenikmatan yang berjumlah jutaan tersebut, diwakili dan diawali oleh dua jenis kenikmatan, yaitu :
1. Aham (aku),
2. Mama (milikku).

Mari kita lihat kenikmatan halus yang pertama yaitu ’Aham’ : Biasanya kecenderungan rasa ‘aku’ ini dimiliki oleh setiap makhluk hidup, mulai dari kelas amouba, bakteri, sampai kelaspara dewa. Dari makhluk-makhluk kecil, kasar dan halus..., sampai dengan makhluk-makhluk surgawi, semuanya memiliki rasa aku. Dalam kitab suci ada disebutkan, bahwa semua dapat terperangkap dalam jala "iswaro'ham". Bahwa akulah Tuhan, akulah penikmat, akulah yang kuasa, akulah yang menyebabkan semua ini terjadi…, aku... Aku... Aku...lah...

Kecenderungan ini mengarahkan kita untuk menjadi lawan atau "rival'-nya Tuhan. Kita ingin meniadakan dan menggantikan kedudukan Tuhan. Segala sesuatu disebabkan dan dilakukan oleh Tuhan YME, tetapi kita ingin menggantikannya dengan aham, bahwa kitalah pelakunya. Bahkan, para dewa pun dapat masuk tanpa kuasa ke dalam perangkap jala "iswaro'ham". Bahwa akulah yang kuasa.

Nah…, bagi seorang pemedang, maka ia akan sangat berhati-hati dan berusaha menjauhkan diri dari cengkeraman "aham". Ia akan menyadari bahwa segala sesuatunya dilakukan hanya oleh Tuhan YME. Tetapi kapan ada campur tangan keinginan nafsu dan ego kita, maka disanalah akan terjadi kecerobohan. Dan disitulah patut kita mengatakan aham... (aku).

Tegasnya, seorang pemedang akan selalu menyimpan di dalam kesadarannya, bahwa segala sesuatu dilakukan oleh Tuhan dan ia tidak ada peran/kontribusi apapun dalam kesuksesan apa-apa yang dia lakukan.

Setelah itu, ia akan melihat lipatan-lipatan dan ikatan-ikatan tali kenikmatan halus yang kedua, yaitu ‘Mama’ : kurang awas, akan membuka peluang atau kemungkinan besar untuk ditangkap oleh kepemilikan. Dan kesempatan untuk itu sangatlah besar. Kemungkinan tertangkap mama adalah 99 persen dan kemungkinan untuk selamat hanya 1 persen saja. Oleh karena itulah, maka seorang pemedang perlu kiranya agar sangat berhati-hati dalam hal ini.

Hendaknya selalu ditanamkan kesadaran dalam batin, bahwa kita tidak pernah memiliki apapun. Segala sesuatu yang ada hanyalah milik Tuhan YME. Bahwa kita hanya sebagai alat atau perantara yang dijadikan sarana untuk menyampaikan milik Tuhan kepada orang lain yang memerlukannya. Ibarat seorang ‘kasir’ sebuah perusahaan yang tugasnya membayarkan gaji kepada para karyawan perusahaan. Tidak sepeserpun uang yang ia berikan kepada para karyawan perusahaan tersebut adalah miliknya. Ia hanya melaksanakan tugasnya saja dan tidak pernah memiliki semua yang sama sekali tidak pernah dimiliknya.

Semoga kita semua selamat dalam meniti jalan spiritual yang berliku-liku dan penuh rintangan ini, serta selamat sampai di tujuan.

Sriguru...
(Darmayasa)



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments