Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Melalui Kesulitan bersama Guru Sejati

Sun, 01 Mar 2026, 17:20:17, 152 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

 

Salam Kasih,

Dalam melakukan suatu pelayanan, khususnya pelayanan kemanusiaan dan spiritual, seringkali kita terlalu banyak menghadapi masalah yang membuat kesal, jengkel, terpancing untuk berada dalam gebuan-gebuan emosi dan amarah. Tetapi, jika kita merenungkannya dengan baik maka akan terealisasikan bahwa sebenarnya semua itu ternyata adalah sebuah berkah dari Tuhan YME, Guru Alam Semesta. Berbekal kesadaran seperti itu, ketika kita menghadapi suatu kesulitan dalam pelayanan, maka hal akan diterima sebagai suatu hal yang sangat bagus. Cukup jarang seseorang yang melakukan pelayanan mendapatkan berkah seperti itu dan tetap menekuni pelayanannya. Biasanya orang-orang melakukan pelayanan dengan baik kalau semuanya baik-baik saja, atau kalau semuanya berjalan dengan normal-normal saja, atau kalau ia mendapat perhatian sebagai imbalan atas pelayanan yang dilakukannya.

Pelayanan seperti itu ia akan lanjut dilakukan dengan baik, dengan kata lain, kalau tidak ada halangan yang melintang di hadapannya, maka ia akan lanjut melakukan pelayanan dengan baik. Tetapi, nilai dari sebuah pelayanan yang berjalan dalam keadaan baik-baik seperti itu biasanya tidak sebaik dan semulia pelayanan yang dilakukan dalam ribuan halangan yang menghadang atau melintang di hadapan kita. Ia merupakan berkah sangat istimewa dari Guru Sejati, Tuhan YME. Dan biasanya halangan-halangan dan cobaan-cobaan serta kekesalan-kekesalan seperti itu, selalu diikuti langsung oleh berkah Guru Sejati.

Dapat dikatakan bahwa Guru Sejati sedang bersama orang tersebut. Kalau demikian keadaannya, keberuntungan apakah yang masih diperlukan lagi? Adakah keberuntungan yang lebih indah daripada itu? Adakah keberuntungan yang lebih mulia dari pada selalu disertai oleh keberadaan Guru Sejati?

Saya banyak melihat orang-orang melakukan pelayanan dengan baik dan ia menjadi sangat mulia bijak di hadapan teman-teman. Tetapi, begitu ada sedikit halangan melintas (bukan melintang atau menghadang), maka ia akan segera mental dan bahkan ia berbalik mencari-cari kesalahan kita yang telah susah payah membimbing mereka dari awal. Begitulah tingkat kesadaran orang-orang yang tidak beruntung mendapatkan kesempatan dipanggil oleh halangan-halangan dan cobaan-cobaan serta kekesalan-kekesalan. Ia kemudian menjadi orang yang terlalu lembek dan murah dihadapan Guru Sejati dan sangat gampang di "halau" oleh angin sepoi-sepoi MAYA. Ia dengan mudah disingkirkan dari jalur indah jalan spiritual. Dan itulah nilai orangnya.

Jadi mengertilah.... bahwa jalan pelayanan itu tidak pernah mudah dan tidak mungkin bebas dari hambatan. Ia ternyata penuh liku-liku dan duri-duri yang mungkin pula akan menyakiti kulit kita yang halus dan lembut. Keberadaan atau identitas pelayanan harus kita mengerti dengan baik. Kalau tidak, maka kita akan segera terjungkal dari arena jalan raya spiritual, dimana kita selalu ditemani oleh Guru Sejati.

Dalam hal ini kita dapat bercermin dari sebuah cerita. Pada suatu hari, sebelum kejadian perang Bharatayuddha, disaat perang sudah pasti akan terjadi, pihak Pandava dan Kaurava sibuk mencari dukungan dan siang malam menggelar diplomasi politiknya demi mendapatkan dukungan politik dari seluruh dunia. Sama halnya dengan kejadian saat ini, dimana perhatian para pemimpin dunia akan tertuju pada Amerika Serikat sebagai negara adidaya atau adikuasa, begitu pula halnya pada zaman mahabharata itu, perhatian Pandava dan Kaurava tertuju pada Krishna.

Duryodhana datang ke tempat Krishna. Pada saat itu Krishna sedang tidur. Ia duduk di samping tempat tidur Krishna di dekat kepala Krishna. Tidak berapa lama datang Arjuna. Ia melihat Krishna sedang tidur, lalu memilih duduk di daerah sekitar kaki Krishna. Keduanya membisu dan tidak berani mengganggu Krishna yang sedang tidur nyenyak.

Setelah Krishna terbangun, Krishna menanyakan tujuan kedatangan keduanya. Duryodhana dan Arjuna menjelaskan maksud kedatangannya, yaitu mencari dukungan politik untuk perang Bharatayuddha. Krishna memberikan pilihan pada Arjuna terlebih dahulu menentukan pilihannya. Krishna memberikan dua pilihan yaitu, di satu pihak angkatan perang Krishna yang hebat perkasa, dan di pihak lain Krishna sendiri dalam keadaan tanpa senjata dan tanpa ikut bertempur mengangkat senjata. 

Ketika Arjuna diberikan kesempatan pertama memilih, Duryodhana menyampaikan protes berat, mengatakan dirinya yang terlebih dahulu datang, tetapi kenapa malah Arjuna yang diberikan kesempatan pertama menentukan pilihan? ia takut kalau Arjuna memilih angkatan perang Krishna yang maha hebat.

Terhadap protes itu, Krishna mengatakan bahwa memang benar Duryodhana yang datang terlebih dahulu. Tetapi, ketika Krishna bangun tidur, yang dilihat terlebih dahulu oleh Krishna adalah Arjuna, karena Arjuna memilih duduk di dekat kaki Krishna (lambang ketundukan hati) dan bukan memilih duduk di dekat kepala Krishna (lambang ketinggian hati).

Akhirnya Duryodhana setuju sambil berdoa terus dengan tangan dan kaki gemetar agar Arjuna tidak memilih pasukan Krishna yang maha hebat tersebut. Begitu Arjuna mengatakan memilih Krishna tanpa senjata, Duryodhana langsung berteriak kegirangan. Akhirnya..., pada saat itu Duryodhana berpuas hati, Arjuna berpuas hati dan Krishna juga berpuas hati.

Di sini kita dapat melihat kejelian spiritual Arjuna yang memilih agar selalu/setiap saat dapat bersama Krishna. Begitulah.... seorang pe-Meditasi Angka yang memilih dan menentukan tujuan hidupnya untuk melakukan pelayanan sesama, maka ia akan memiliki kejelian spiritual seperti yang dimiliki oleh Arjuna, yaitu ia akan memilih kehadiran Sang Guru Sejati agar setiap saat bersama dirinya, walaupun di dalam keadaan yang penuh kesulitan, penderitaan, cercaan, kecurigaan dan fitnah. Sebab.., Tuhan/Guru Sejati menjadi tidak berdaya ketika terjadi suatu keadaan dimana abdi-NYA atau murid spiritual-NYA berada dalam keadaan menderita atau kesulitan. Guru Sejati segera hadir untuk menghalau segala kesulitan dan derita dari hadapan abdi-NYA.

Demikianlah ketika pe-Meditasi Angka telah menentukan pilihan untuk melakukan pelayanan sesama, maka ia juga harus menentukan pilihan bersama Tuhan YME setiap saat, walaupun di dalam berbagai kesulitan dan bukan bersama segala jenis kemewahan dan kekuasaan duniawi, tetapi tanpa kehadiran Sang Supreme Power, Sang Guru Sejati. Sebab, kehadiran segala kekuasaan dan kemewahan di dalam hidup seorang pe-Meditasi Angka, akan disadari sebagai medan empuk untuk jatuh dari jalan spiritual dan ia akan memiliki mental lemah untuk memilih jalan empuk keberadaan Guru Sejati bersamanya. Semoga semua berbahagia dalam pelayanan sesama yang dilakukan sesuai dengan kesempatan dan kemampuan masing-masing.

Sriguru...
(Darmayasa)
DIVINE LOVE/090206



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments