Tinggalkan Untuk Mendapatkan
Sat, 25 Sep 2021, 11:12:13, 1160 View Administrator, Category : Reflection Series
Reflection Series
Salam kasih,
Telah terjadi kesalahpahaman dalam pemikiran dan tindakan kita sehari-hari. Kita menyimpan di kepala kita dengan ketat bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, maka kita harus mencari dan mengejar sesuatu yang kita inginkan tersebut.
Walaupun orang-orang tua menasehati dengan tanpa kenal lelah, bahwasanya, sesuatu yang kita kejar itu akan berlari lebih kencang daripada lari kita, dan akhirnya akan semakin menjauh meninggalkan kita yang kelelahan karena usia, waktu, kekuatan dan bahkan sifat-sifat kebenaran pun ikut semakin menjauh dari kita. Bagaikan orang mengejar bayangan sendiri. Kita melangkah, namun bayangan kita pun melangkah menjauh.
Sastra-sastra suci memberikan petunjuk bahwa sifat meninggalkan (ketidakterikatan) adalah suatu sifat yang patut dipuja, sebab ia dengan segera mampu memberikan pembebasan spiritual. Contoh dengan mudah diberikan: jika kita mengosongkan gelas dengan cara membuang airnya, maka gelas tersebut akan dapat dengan mudah diisi madu atau susu. Semakin banyak yang kita buang, semakin banyak pula yang akan kita dapatkan. Keterikatan menjadi penghalang berat bagi seseorang untuk meninggalkan sesuatu. Kapan seseorang terikat pada sesuatu, walaupun sesuatu itu tidak berguna sama sekali, atau walaupun sesuatu itu memberikan kedukaan padanya, ia tetap akan mengatakan bahwa yang menjadi obyek keterikatannya tersebut adalah sangat indah, sangat baik, satu-satunya benda berharga di atas muka bumi ini.
Sifat meninggalkan adalah sesuatu yang sangat diperlukan jika seseorang ingin mendapatkan pembebasan spiritual. Semakin dekat orang pada Tuhan, maka semakin kuat daya ketidak terikatan didalam dirinya. Hanya orang yang mendapatkan sinar penerangan spiritual dari Tuhanlah yang akan diizinkan untuk memiliki sifat tangguh meninggalkan ini....
Dalam pencarian, kapan orang hanya mencari kepuasan sejati, kebahagiaan sejati dan bukan kepuasan yang bersifat satu dua hari, yang bersifat sementara, maka ia hanya akan mencari pembebasan dari penderitaan dunia material. pembebasan sejati, ada dua macam/jenis, yaitu pembebasan yang didapatkan lewat jenjang-jenjang pencapaian alam-alam surga, meningkat perlahan-lahan melewati milyar-an tahun.... sampai akhirnya ia beruntung dapat mencapai tingkatan lebih tinggi. Di alam tersebut ia akan mengalami berbagai kepuasan material yang sangat halus yang hampir tidak terbedakan dengan kepuasan di alam-alam spiritual yang kekal. Namun lewat sentuhan-sentuhan spiritual dari "pergaulan" alam suci itu, maka ia akan meneruskan perjalanannya ke alam spiritual, memasuki alam-alam "kebebasan".
Kebebasan yang satunya lagi adalah roh-roh yang masih belum mampu menyelesaikan ikatan kesenangan duniawinya, sambil tekun di dalam pelaksanaan sadhana-sadhana spiritual entah dalam bentuk doa-doa, pengulangan nama-nama Tuhan, meditasi, atau praktek-praktek spiritual yang lain-lain yang masih didalam jalan "lurus" dan suci. Dengan cara seperti itu ia akan meningkatkan dirinya secara perlahan, melewati alam-alam surga. Tetapi, mengingat keterikatan keinginan duniawi masih menguasainya, maka ia harus turun lagi ke dunia material ini, dan ia akan terlahirkan di keluarga-keluarga bangsawan, pendeta yang saleh dan lain-lain. Selanjutnya, mendapat "sentuhan" sedikit saja dari pergaulan spiritual, maka ia akan "teringatkan" kembali oleh kegiatan-kegiatan spiritual pada kehidupan-kehidupan lampaunya, dan ia akan mencapai kemajuan dengan cara melelapkan diri didalam praktek-praktek spiritual. Setelah meninggalkan badan jasmani yang dibentuk oleh unsur-unsur alam, maka ia akan melanjutkan perjalanan spiritualnya, ia akan mencapai Kebebasan mutlak.
Sedangkan pembebasan yang dicapai oleh roh-roh tertentu di dalam hidup ini, semasih ia hidup di alam ini dan akhirnya setelah meninggalkan badan jasmaninya, ia akan mencapai alam-alam spiritual. Selama hidupnya di alam material ini, sang mahatma atau roh agung tersebut akan bertindak mengikuti "permainan" dunia material, tetapi ia sama sekali berada di luar sentuhan alam material. Ia hanya akan berbuat demi kesejahteraan dan kemajuan spiritual makhluk hidup di dunia ini. Ia tidak hanya berbuat untuk sesama manusia melainkan untuk seluruh makhluk hidup. Kalau ia menerima sesuatu dari yang lain, kalau ia memberi sesuatu kepada yang lain, maka semuanya akan ia lakukan "demi kepuasan batinnya sendiri, demi kepuasan sang Rohnya, demi kepuasan spiritualnya sendiri. sang mahatma tersebut, telah meninggalkan segala sesuatu untuk mendapatkan satu hal, untuk mendapatkan intan permata, untuk mendapatkan hanya satu hal yang mana segalanya ia bisa dapatkan... dengan mengetahui yang satu.., ia mengetahui segalanya.
Semoga semua makhluk berbahagia...
(Darmayasa)
Menyambut Masalah Bersama Guru Sejati
Tidur Bersama Tuhan
Memetik Bunga dan Buah dari Meditasi Angka



