Terbebas Dari Parasit Teori
Fri, 01 Jul 2022, 16:10:50, 1239 View Administrator, Category : Reflection Series
Reflection Series
Salam kasih,
Pada suatu hari, saya sedang dalam perjalanan mencari alamat seorang teman di Jakarta. Setelah menunggu beberapa saat, seorang teman datang menjemput saya, mengingat daerah yang saya datangi itu cukup asing bagi saya.
Teman tersebut mengemudi dengan lancar, karena dia memang sangat mengenal seluk-beluk daerah tersebut. Bahkan jalan-jalan pintas yang tidak semua orang mengetahuinya dapat dicarinya dengan mudah tanpa halangan. Sepanjang perjalanan kita bercerita ria sambil sekali-sekali teman tersebut menunjukkan minatnya didalam masalah-masalah berbau metafisika, khususnya didalam gerakan cinta kasih spiritual lewat praktek Meditasi Angka.
Ketika tiba di suatu daerah, saya melihat ada papan nama jalan bertuliskan “Jl.Sulaeman”. Spontan dari mulut saya tercetus kata-kata: JALAN SULAEMAN.
Mendengar saya membaca nama jalan, teman yang sedang mengemudi tersebut nyletuk, “Wahh..Pak..., Saya sendiri tidak pernah tahu nama jalan ini. Jadi jalan ini namanya jalan Sulaeman ya?!”
Lebih lanjut ia berkata, “Saya tidak tahu nama jalan pak...tapi sudah terbiasa datang ke sini. Saya tahu tujuan, langsung menuju ke tujuan dan sampai. Saya hanya tahu posisi rumah tanpa pernah hafal nama jalan.”
Saya tersenyum tanpa komentar.... Sesampai di tempat tujuan, teman-teman lain sudah pada menunggu kedatangan rombongan kami. Timbul keinginan dan saya langsung mengabarkan kejadian penting tersebut..., bahwa tanpa mengetahui nama jalan pun teman saya bisa mengantarkan saya dengan mudah dan selamat sampai di tempat tujuan.
Sebelum membahas lebih lanjut butir cerita di atas, saya menambahkan lagi sebuah cerita yang lain, yaitu tentang seorang Professor Ahli Renang. Ia seorang yang sangat ahli dalam teori renang, dan bahkan ia telah menulis buku Teori Renang yang diperkirakan akan menjadi “Best Seller”.
Ia mengadakan riset serta mengumpulkan berbagai teori tentang renang, mulai dari teknik pernafasan, macam-macam style/gaya, teknik meloncat, pengaturan posisi tubuh agar memperkecil tekanan yang ditimbulkan oleh air, teknik mengayuh tangan, kaki dan lain sebagainya. Ia juga menciptakan beberapa jenis gerakan olah raga demi menunjang teori renangnya.
Setelah puluhan tahun mengumpulkan berbagai teori-teori tentang renang yang beraneka ragam dan dari berbagai sumber yang terpercaya, maka tibalah saatnya sang Professor mengadakan jumpa pers untuk mempublikasikan temuan barunya.
Di suatu pantai yang indah..., tampak sang Professor berdiri dengan tegak. Panggung tempatnya berdiri tampak sangat meriah dengan berbagai hiasan-hiasan kertas berwarna-warni. Sambil memegang contoh sebuah buku tentang renang tersebut, sang Professor menceritakan garis besar isi buku tersebut. Tampak pengunjung terkagum-kagum dengan teori temuan baru sang Professor tersebut.
Sedang asyik dia bercerita, tanpa disadari, entah bagaimana awalnya, datanglah gelombang besar..., sangat besar..., sehingga panggung tempat jumpa pers tersebut lenyap ditelan gelombang laut, dan semua orang termasuk sang Professor juga hanyut ke tengah laut.
Sang Professor yang hanya menguasai jutaan teori-teori tentang renang menjadi panik... karena ternyata sang Professor tidak bisa berenang..., dia hanya tahu teori-teori yang didapatkan dari pengalaman orang lain.
Namun..., untunglah dia diselamatkan oleh seorang bocah kecil dari pedalaman Kalimantan yang baru berumur belasan tahun, tetapi dia sudah ahli berenang sejak masih kanak-kanak, meskipun bocah tersebut tidak pernah tahu teori-teori tentang renang.
Sang Professor merasa malu hatinya, karena teori-teori hasil risetnya ternyata tidak bisa menolongnya dari bencana gelombang pasang. Teori tersebut ternyata tidak bisa menyelamatkan dirinya.
Demikianlah..., dua cerita yang berbeda di atas menunjukkan bahwa penguasaan teori-teori ternyata tidak banyak manfaatnya. Tanpa mengetahui nama jalan pun teman saya dapat mengantarkan saya pada tujuan dengan selamat.
Demikian pula tanpa teori tentang renang pun seorang anak belasan tahun dapat berenang dengan baik dalam medan yang cukup berbahaya sekalipun.
Dalam hal ini..., teori-teori berlebihan dengan mengabaikan kesungguhan praktek, dalam Meditasi Angka sangatlah tidak penting. Yang dibutuhkan adalah ketekunan untuk mempraktekkan teknik Meditasi Angka. Mengingat peran Angka yang maha luar biasa, dalam Meditasi Angka kita ternyata tidak perlu terlalu menghafalkan bentuk/rupa cakra-cakra, tidak pula nama-nama dan warna cakra-cakra, Nadi-nadi, berbagai jenis Prana dan lain sebagainya. Tetapi, berlatih dengan tekun tanpa kenal lelah, dalam setiap kesempatan yang ada untuk berkonsentrasi pada Angka dan juga titik-titik pusat cakra adalah jauh lebih baik.
Jalan yang kita tuju di depan sana adalah jalan yang ‘pasti’ dan ‘selamat’. Kita pasti sampai di tempat tujuan asalkan kita tetap tekun melangkah setapak demi setapak ke depan meniti jalan spiritual melalui jalan Meditasi Angka.
Dalam Meditasi Angka, kita memang sangat menghindari hanya membicarakan dan mendiskusikan teori saja. Tetapi mempraktekkan teknik Meditasi Angka adalah tujuan utama, yang secara pasti akan mengantarkan kita dengan selamat pada tujuan.
Dalam banyak kesempatan, saya cendrung mengarahkan teman-teman agar menghindari menjawab pertanyaan atau berdiskusi tentang teori. Kebanyakan teori hanya akan mengantarkan kita pada khayalan, dan bukan pada tujuan yang sebenarnya. Marilah kita memfokuskan diri pada praktek untuk mencapai tujuan dengan selamat. Saya kira, ia perlu dijadikan pilihan untuk menyelamatkan diri dalam jalan spiritual. Orang yang memesan nasi goreng di restauran lebih beruntung daripada mereka yang ahli masak nasi goreng, sebab mereka tidak merasakan enaknya nasi goreng dan tidak menerima hasil tenaga yang didapatkan dari MEMAKAN nasi goreng.
Semoga semua berbahagia.
Sriguru...
(Darmayasa)
DIVINE LOVE/050106
Menyambut Masalah Bersama Guru Sejati
Tidur Bersama Tuhan
Memetik Bunga dan Buah dari Meditasi Angka



