Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Siapkah Anda Menjadi Kaya

Sat, 02 Oct 2021, 12:13:38, 1084 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam kasih,

Ada perlombaan dan kompetisi dalam berbagai bidang, dalam berbagai lapangan hidup, dalam berbagai "khayalan". Sehubungan dengan perlombaan atau kompetisi menjadi orang kaya, ada hal yang perlu dipertimbangkan matang-matang sebelum anda memasuki "kancah" itu.

Pergaulan serba cepat pada masa ini sering menghalangi kita untuk menjadi "awas" dalam menjaga kesadaran kemanusiaan kita. Ya, ini adalah salah satu contoh lembaran kurang pas dari pergaulan serba cepat zaman ini. Kata kemanusiaan telah tanpa sadar kita hilangkan dari permukaan hati kita, karena kita lebih memberikan tempat pada pengisian "kotoran-kotoran" penampakan wujud luar yang menyenangkan seperti kecantikan, uang, jabatan, suku, agama dan lain-lain. Akhirnya permukaan hati kita penuh terisi atau terpadati oleh "kotoran-kotoran" tersebut. Pada mulanya kita membiarkan semua itu memasuki lapangan hati dan batin kita yang bersih tanpa cacat, tetapi lama kelamaan kita akhirnya menyukai "kotoran-kotoran" tersebut. Pelan-pelan tanpa disadari, bagaikan orang kecanduan minuman keras atau obat tidur, ia tidak akan bisa tidur tanpa meminum obat tidur, seperti itu pula pada akhirnya kita menjadi "kecanduan", bahwa tanpa memasukkan "kotoran-kotoran" luar tersebut kedalam batin, kita akan merasakan hidup ini kurang pas, atau belum sempurna. Kita akan merasa kurang dari yang lain kapan kita tidak memasukkan kesadaran seperti itu. Dalam hal ini, tanpa disadari kita telah menyenangi hidup dalam kerlap kerlip tercemar VIRUS.

Kita akan merasa derajat kita terangkat jika kita bergaul atau mendapatkan kesempatan melihat orang berdasi (baca: hanya melihat). Kita akan menyebut "Duh bahagianya" kapan kita melihat orang cantik, tampan, atau orang sesama kulit, suku, agama dll. Sebaliknya, kita akan merasa jijk kapan kita melihat orang miskin, kita akan segera lari menjauh, seperti orang ketakutan melihat ular berbisa. Kita segera akan memasang "kecurigaan" kapan kita melihat atau didatangi atau bahkan mendatangi orang lain, orang yang berbeda kulit, suku, agama dan lain-lain.

Ya...., tanpa disadari kita telah menjadi VIRUS itu sendiri. Dan kita merasa berbesar diri atas "berita sedih" itu. Bahwa kita telah kehilangan kesadaran indah berupa kesadaran KEMANUSIAAN. 

Dalam pergaulan sehari-hari kita sering melihat orang lain dengan kaca mata luar. Kita hanya melihat penampakan mereka, tanpa mencoba "melihat" lebih kedalam lagi, yang seringkali adalah lebih baik dan lebih cantik dari penampakan luar. Kita melupakan hal itu dan kita tidak lagi memiliki kaca mata berharga seperti itu.

Adalah sebuah penghinaan jika kita dipandang orang lain bukan sebagai manusia. Sebaliknya adalah kejatuhan derajat "luar dalam" ketika kita memandang orang lain tidak sebagai manusia.

Kita mendapatkan kesenangan yang dibesar-besarkan sebagai kebahagiaan ketika kita bergaul dengan orang-orang "sama kulit". Tetapi, kita tidak menyadari bahwa "kebahagiaan" tersebut palsu adanya, khayal adanya, dan ia sebenarnya adalah kedukaan, kepicikan, atau sebuah kesenangan garuk gatal. Tentu saja, orang-orang bijaksana tidak akan berbahagia dalam kesenangan garuk gatal. Orang bijaksana memang "merasa sedih" melihat kesadaran garuk gatal berkembang menjamur memenuhi taman-taman anggrek di dunia ini.

Paling tidak, jika kita tidak bisa berbuat sesuatu untuk orang lain, jika kita tidak mampu membuat orang lain tersenyum, sebaiknya kita tidak menghina orang lain, kita tidak menyakiti hati otang lain, kita tidak memperlakukan orang lain sebagai benda mati, atau sebagai binatang. Paling tidak itu yang bisa kita lakukan jika kita tidak bisa berbuat kebaikan untuk orang lain. Menyakiti hati orang itu tidak baik dan tidak dijalan sopan santun duniawi dan juga tidak dijalan Tuhan Yang Maha Pengasih. Agar sifat kita bisa berubah ke arah lebih halus penuh kasih, kita memang perlu mencoba mengkhayalkan bagaimana rasa perihnya hati disakiti.

Jika karena satu dan lain hal, kita ditempatkan oleh Tuhan di dalam keberadaan duniawi, rezeki lebih, usahakanlah bersiap-siap untuk didatangi oleh sifat-sifat takabur dan berbagai sifat rendah tidak terpuji. Kekayaan selalu diuji dalam sifat-sifat seperti itu. Segala keburukan dan bahkan kejahatan akan segera datang menghadang Anda begitu uang mulai berdatangan kepada anda.Oleh karena itulah, kita memang memerlukan penggemblengan sifat kedalam, agar kita tidak takabur dan tidak memperlakukan orang lain sebagai binatang atau sebagai benda mati.

Lihatlah orang lain sebagai manusia dan berhati-hatilah agar Anda tidak mempertunjukkan muka binatang di hadapan mereka. Hiaslah kekayaan anda dengan sifat-sifat kemanusiaan. Kalau tidak memberi sedekah tidak apa-apa, tetapi Anda tidak berhak menghina dan memperlakukan orang lain sebagai binatang.

Itulah kurang lebih persyaratan untuk menjadi orang kaya. Kalau kita merasa cukup memiliki sifat-sifat mulia kemanusiaan, bolehlah kita menginginkan hidup berlimpahan uang. Kalau tidak, sebaiknya kita berpuas hati dalam keberadaan sebagaimana adanya.

Di dalam uang bersembunyi setan-setan licik yang siap untuk menjatuhkan anda. Ia tidak punya nyali menunjukkan dirinya secara langsung. Berhati-hati dalam hal ini adalah cara yang cukup bijaksana.

Semakin anda didatangi oleh uang, wajarlah untuk menjadi semakin takut. Semakin anda didatangi oleh uang, wajarlah untuk menjadi semakin berhati-hati dalam segala hal. Orang kaya yang saleh memang jarang dapat dijumpai, karena ia dikirim oleh Tuhan ke dunia untuk tujuan tertentu. Orang kaya yang menjauh dari kesalehan memang banyak dijumpai di dunia, karena mereka bukan dikirim oleh Tuhan ke dunia ini untuk missi tertentu, melainkan ia sedang menjalankan hukuman Tuhan. Orang kaya yang tidak saleh, sesungguhnya adalah orang yang tidak beruntung, sesungguhnya ia adalah orang menderita, sebab, ia tidak mempunyai kecerdasan untuk menggunakan uangnya, bahkan bagaimana menggunakan uang untuk dirinya sendiripun ia tidak tahu caranya. Dalam hal ini, kita banyak bisa melihat orang kaya yang malang di masyarakat sekeliling kita. Pengemis di jalanan sebenarnya lebih "kaya" daripada orang kaya seperti itu.

Orang yang kaya oleh jiwa/kesadaran kemanusiaan, ia "nampak" dimata Tuhan dan orang-orang bijaksana, dan itu adalah sebuah "kehormatan" baginya...

(Darmayasa)
DIVINE LOVE/110305

 



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments