Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Pentingnya Memelihara Ketundukan Hati

Sat, 17 Jul 2021, 12:15:23, 1108 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam kasih,
   
Dalam dunia spiritual, semakin orang maju di dalam jalan spiritual, maka ia akan menjadi semakin tunduk hati (bukan rendah hati). Semakin seseorang tunduk hati, maka ia akan semakin menundukkan pula dirinya, namanya, keahliannya, kemampuannya dan keluarganya. Ia akan memilih untuk menjadi pelayan dari pelayan dari pelanyannya Tuhan YME. Ia sedikitpun tidak akan berani menganggap dirinya berkualifikasi dalam berhubungan langsung dengan pelayan Tuhan, tetapi ia akan menganggap dirinya hanya berhak berhubungan dengan pelayan dari pelayan dari pelayan terendah Tuhan YME. Itulah kedudukannya, itulah tempat yang membuat ia merasa pas untuk dirinya.

Ketundukan hati seperti itu memang sangat membantu orang untuk maju dalam jalan spiritual. Dalam bahasa Sansekerta ada disebutkan: “Trinad Api Sunicena” Yang artinya: “Bahkan ia hendaknya menganggap dirinya lebih rendah dari pada rumput di jalanan.”

Kalau kita jujur meneliti diri, maka akan dijumpai bahwa ternyata kita memang tidak memiliki sifat indah apa pun yang patut kita banggakan. Tidak ada sama sekali. Kita hanyalah tumpukan tulang belulang dan daging, yang isinya bukan amerta, bukan keharuman bunga, melainkan isinya hanyalah kebanggaan palsu dan kesombongan. Hanya itu isinya, yang kemudian dihiasi oleh kemarahan, keserakahan dan hawa nafsu. Tidak ada yang lain daripada itu. Nafsu yang menggebu. Bahkan lebih jauh dalam kegiatan spiritual pun ia akan tetap menambahkan sifat-sifat keserakahan, amarah, nasfu dan lain-lain tersebut.

Menyadari akan hal itu, adanya rasa kepemilikan, maka tiada pilihan lain bagi kita kecuali mencoba sebisa-bisanya untuk menundukkan hati kita dengan menerima kebenaran dan kenyataan, bahwa kita tidak memiliki setitik kualifikasi apa pun untuk menganggap diri kta berhak duduk dekat dengan pelayan Tuhan. Melainkan kita hanya berhak duduk dibawah pelayan dari pelayan dari pelayan dari pelayan Tuhan yang  terendah. Jika kita telah mampu menurunkan ego palsu, maka seketika itu pula batu timbangan spiritual kita akan mengangkat derajat kita. Namun bilamana kita memberikan penekanan pada ego palsu, maka tepat pada detik itu pula batu timbangan kemajuan spiritual akan menghancurkan dan menjatuhkan kita sampai rata dengan tanah.

Yang menentukan semua ini hanyalah kejujuran kita dalam menerima kenyataan diri kita, keberadaan senyatanya tentang diri kita sendiri, dan hal itu hanya kita sendiri sajalah yang bisa menilainya secara jujur sejujur-jujurnya, dengan mempresaksikan pada Guru / Mahaguru / Guru Sejati / Tuhan YME. Karena ia merupakan urusan sangat pribadi antara kita dengan Guru Sejati.

Dalam hal melayani orang lain, kita hendaknya selalu menyadari bahwa hidup kita hanya sesaat. Tidak ada yang bisa menentukan bahwa waktunya telah tiba untuk kita harus segera meninggalkan badan ini. Setiap saat, kapan saja sms dari Tuhan bisa datang. Untuk itulah kita hendaknya selalu sadar bahwa kita ini adalah "nothing"... Kita tidak ada artinya sama sekali di dunia ini, sepanjang kita tidak mempergunakan badan dan diri kita ini untuk melakukan pelayanan saleh dan spiritual kepada orang / makhluk hidup lain. Selain kegiatan pelayanan spiritual itu, maka hidup kita tiada artinya sama sekali. Kita hanyalah sebuah tengkorak yang berjalan-jalan di daerah pertokoan yang tidak ada artinya sama sekali.

Sekali lagi perlu diingatkan kembali bahwa, seorang pemeditasi angka harus menyadari hal ini dengan baik. Bahwa diri kita ini tidak ada artinya sama sekali, sepanjang hidup kita tidak diperuntukkan pelayanan kemanusiaan alias pelayanan pada Tuhan YME. Tidak ada yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi sedetik lagi, sebentar lagi...

Untuk ini mari kita simak sebuah cerita. Suatu kali, Raja Yudhisthira didatangi oleh seorang pendeta yang akan meminta uang, karena akan mengawinkan putrinya. Seorang pendeta adalah dia yang hanya menunaikan tugas keagamaan / spiritual, dan tidak melakukan pekerjaan yang mendatangkan uang atau berdagang dll. Seorang pendeta harus diurus oleh orang-orang yang berkeluarga yang bekerja mendatangkan uang dan oleh raja.

Ketika ditemui oleh pendeta, saat itu Raja Yudhisthira sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat. Kemudian beliau mengatakan agar pendeta datang esok harinya, pasti akan diberikan dana. Nah…, jawaban Raja Yudhisthira tersebut didengar oleh Bhima adiknya, yang juga bernama Wrekodara karena ia kuat makan, tetapi memiliki kesederhanaan dan keluguan yang sangat luar biasa. Bhima terkenal akan kesederhanaan dan kejujurannya, selain keberanian dan kegalakannya. Akhirnya Wrekodara berkata kepada senapati kerajaan agar menghias istana dan seluruh kota dengan meriah.

Ketika Raja Yudhisthira menyaksikan meriahnya kota disertai suara gamelan yang gegap gempita, Dharma raja merasa keheranan dan bertanya ada apakah gerangan. Senapati mengatakan semua itu atas perintah adik Raja Yudistira, sang Bhima.

Yudhistirapun memanggil Bhima dan menanyakan hal itu. Bhima menjawab bahwa ia sangat bergembira hari itu, lalu mengumumkan kepada seluruh rakyat bahwa bhima sangat bergembira. Yudhisthira bertanya lagi, "ada apa? Kenapa kamu bergembira?" 
Bhima berkata, "aku gembira karena rajaku, kakakku sedang berjaya..."
"Berjaya? Berjaya bagaimana?" tanya Yudhisthira keheranan
"Ya…, Raja Yudhisthira berjaya karena sudah mengalahkan Dewa waktu...." Yudhisthira tambah tidak mengerti dan tidak sabar mendengar penjelasan Bhima.

Akhirnya Bhima mengatakan: "Kanda....., orang-orang besar dan agung, bahkan para dewa pun tidak mampu mengalahkan Dewa waktu, tetapi kanda ternyata mampu untuk itu. Bhima menegaskan kembali, "Kanda didatangi oleh pendeta dan menyuruh pendeta itu untuk datang besok. Tetapi siapa yang tahu hari esok? Apakah kita masih hidup sedetik lagi? Sebentar lagi?. Nah dengan jawaban kanda tersebut, berarti kanda paling tidak telah mampu mengalahkan Dewa waktu selama sehari. Inilah kegembiraan hamba yang tiada terbendung, sehingga hamba minta seluruh penduduk agar bersuka ria merayakan kemenangan kanda atas Dewa waktu.

Yudhisthira menyadari kekeliruannya dan segera memanggil pendeta tersebut, lalu segera memberikan uang dalam jumlah yang banyak sebagai persembahan untuk mengawinkan putrinya.

Demikianlah, kita tidak akan pernah tahu sampai kapan kita akan diizinkan tetap bernafas. Oleh karena itu, selama nafas ada di dalam badan ini, selama kita masih kuat dan ada kesempatan, hendaknya kita berusaha keras, memanfaatkannya dengan baik, untuk membuatnya lebih sehat, kuat, tenang dan damai. Selanjutnya kesempatan itu dipergunakan untuk melakukan pelayanan kemanusiaan, yang sebenarnya tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah pelayanan kepada Tuhan YME sendiri.

Sriguru... 

(Darmayasa)
DIVINE LOVE/030506

 



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments