Pasar Malam Karna Priya
Sat, 11 Sep 2021, 11:52:16, 1141 View Administrator, Category : Reflection Series
Reflection Series
Salam Kasih,
Kalau orang-orang tua kita dahulu mengajarkan agar kita “menerima” hinaan, cercaan dan umpatan orang lain sebagai busana intan permata untuk menghiasi rumah dan halaman rumah kita, tampaknya ajaran tersebut kini telah “lelah” dimakan zaman. Ia tidak mampu lagi berdiri tegak karena tangan dan kakinya telah hancur diobrak-abrik zaman, dan kini ia “malu” memperlihatkan wajahnya yang sudah menjadi sedemikian buruk di hadapan orang-orang. Ya, zaman memang telah berubah dan ia telah merubah segalanya. Kita akan menjadi orang asing di hadapan tradisi-tradisi indah dan suci warisan leluhur, itu pun terlalu sulit dijumpai. Untuk menjumpainya pun kita harus melewati berbagai halangan dan cercaan…
Orang-orang yang mendekat pada tradisi leluhur seperti itu tentu saja akan menjadi orang kikir, maksud saya kikir yang masih bisa diperbincangkan karena didalamnya terdapat kemungkinan sesuatu yang baik. Kikir yang saya maksudkan adalah KIKIR KATA PUJIAN, yang kalau didalam bahasa Sanskertanya adalah istilah Karna Priya. Karna berarti telinga dan Priya berarti menyenangkan. Karna Priya berarti kata-kata yang menyenangkan telinga. Dalam hal ini, mereka yang termasuk Kikir Kata Pujian tidak akan mampu memberikan pujian-pujian untuk sekadar menyenangkan orang di depannya. Ia akan merasa berat melakukan hal itu sebagaimana orang kikir materi, maka ia akan merasa berat hati untuk memberikan sepeser uang pada orang lain. Walaupun orang miskin tersebut sangat memerlukan uang, orang yang kikir tetap tidak akan bersedia memberikannya.
Orang-orang yang Kikir Kata Pujian akan merasa kesulitan memuji orang lain. Ia akan menyelamatkan kata-katanya bagaikan ia menyelamatkan harta karun. Sepatah dua patah kata pujian yang dikeluarkan akan dianggap sebagai berkurangnya harta karunnya. Ia akan merasa menderita untuk itu. Jika ia terpaksa memuji orang lain, ia akan merasakan bagaikan mencabik-cabik dada dan mencopot hati serta melemparkannya kesana-sini, merasa hatinya sudah tidak berguna lagi disimpan didalam dirinya. Sebaliknya, bagi mereka yang Murah Kata Pujian, akan memanfaatkan segala “ilmu pujian”nya untuk mendapatkan apa saja yang ia inginkan. Ia tidak akan mampu melihat (atau tidak mau melihat) kerugian yang diakibatkan oleh pujian-pujian tersebut. Ia hanya akan melihat keuntungan dan hanya keuntungan dari praktek ilmu pujian itu. Sehebat-hebatnya orang, mungkin dalam politik, dalam berbagai ilmu, ataupun dalam kesaktian akan begitu mudah bertekuk lutut di hadapan pujian-pujian. Khususnya zaman sekarang adalah zaman yang mengutamakan pujian-pujian. Anda tidak akan mendapatkan sesuatu tanpa melepaskan anak panah “pujian”. Sebaliknya, semiskin-miskinnya orang, ia akan bisa membeli apa saja di Pasar Malam Pujian. Sebodoh-bodohnya orang, ia akan menjadi hebat begitu keluar dari Pasar Malam Pujian. Sebeku apa pun hati orang, ia akan menjadi cerah begitu keluar dari Pasar Malam Pujian. Mereka yang tekun memperdalam ilmu pujian, akan mampu menerobos sedalam dan sesulit apa pun masalah-masalah yang menghadangnya untuk maju ke depan Memang berbahaya kalau dunia dipenuhi oleh para pemraktek ilmu pujian seperti itu. Dalam usaha memelihara atau mengembangkan Divine Love dalam diri kita, ada hal yang mungkin bisa kita pelajari dari ilmu puji memuji ini.
Dianjurkan agar kita tidak menjadi pelit kata pujian, karena ia akan merugikan diri sendiri. Sebab, pergaulan memang menuntut keberadaan si Puji (-an). Kalau semua orang pergi mengunjungi Pasar Malam Pujian, kenapa kita duduk diam di rumah? Kalau banyak hal yang mahal-mahal serta jarang didapat, namun dengan memasuki Pasar Malam Pujian kita bisa mendapatkannya begitu mudah, mengapa kita tidak melakukannya? Bagi orang-orang yang telah terbentuk secara spiritual, akan dengan jeli mengambil manfaat dari Pasar Malam Pujian ini. Ia akan memuji dengan jujur keberadaan orang lain. Ia akan dengan jujur memuji sifat-sifat agung yang dimiliki orang lain dan tidak mengada-ada.
Jika orang secara palsu memuji orang lain untuk mendapatkan berbagai keuntungan material, apa salahnya jika seorang spiritualis memuji dengan jujur kearifan dan sifat-sifat baik orang lain? Sebab dan maksudnya? Yahhh, seringkali pujian yang jujur mampu menghilangkan kebiasaan buruk yang selalu MELIHAT KEBURUKAN ORANG LAIN. Jika mempertimbangkan keuntungan dari masuk Pasar Malam Pujian, seorang siswa meditasi mungkin dianjurkan untuk mendapatkan keuntungan tersebut, yaitu menghindari melihat keburukan dan kesalahan orang lain.
Kesimpulan akhir? Eemm… mengeluarkan pujian-pujian memang membuang tenaga batin…..
(Darmayasa)
Menyambut Masalah Bersama Guru Sejati
Tidur Bersama Tuhan
Memetik Bunga dan Buah dari Meditasi Angka



