Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Menyeberangi Lautan Kehidupan

Sat, 18 Sep 2021, 11:30:59, 1104 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam Kasih,

Kita perlu berhati-hati dalam merenungkan perputaran kesengsaraan, lahirmati, lahir-mati. Hal itu dperlukan karena “kesenangan” (baca:kesengsaraan) duniawi begitu indah dan mengelabui atau menipu. Khayalan-khayalan tersebut tampak begitu nyata di hadapan kita, sehingga seringkali iman kita “runtuh” hanya oleh kemilau uang dua-tiga kepeng, atau oleh jabatan yang hanya satu-dua hari, atau oleh kemasyuran nama yang hanya dimeriahkan oleh tepuk tangan sebagai hadiah untuk acting “drama” yang kita lakukan.

Pada akhirnya, kesenangan duniawi yang diwakili oleh (1) makan, (2) tidur, (3) hubungan kelamin dan (4) membela diri, ternyata juga tersedia untuk semua jenis kehidupan, tersedia untuk binatang-binatang dan burungburung. Hanya saja, perbedaannya, keempat hal tersebut dinikmati oleh manusia dengan cara cukup “sopan”. Tetapi, nilai kenikmatan atau kesenangannya sama.

1. Dalam hal makan, binatang memakan apa saja, tanpa dicuci atau dimasak terlebih dahulu, dan manusia menikmati makanan dengan lebih “terhormat” yaitu dengan memakai garpu. Tetapi, kenikmatan dan hasil makan berupa rasa kenyang dan mendapat tambahan tenaga ternyata sama.Binatang pun menjadi sehat dan kuat karena makan.

2. Dalam hal tidur, binatang tidur di sembarang tempat, entah di lumpur, di tempat yang bergelimang kotoran, di sarang nyamuk, dan lainlain. O ya, mereka tidur tanpa dilengkapi dengan selimut, AC, kelambu dan lain-lain. Tetapi, rasa tidur nikmat dan nyenyak seperti yang dialami oleh manusia di kamar ber-AC, juga dialami oleh binatang-binatang tersebut.

3. Dalam hal hubungan kelamin, jika kita jujur mengamatinya, kita pasti akan mengakuinya bahwa mereka kadang lebih baik dan lebih teratur. Pada umumnya binatang-binatang berhubungan kelamin hanya pada waktu-waktu tertentu dan untuk berketurunan. Setelah berhubungan, dan/atau setelah betinanya hamil, mereka tidak lagi berhubungan. Sedangkan bagi manusia, nafsu kelamin menjadi masalah cukup mengganggu. Ia “mendesak” atau “memaksa” manusia untuk memenuhi dorongan kelaminnya dengan berbagai cara, bahkan dengan cara-cara yang cukup menjijikkan tetapi “dipoles” oleh suatu upacara atau “sopan santun” atau “perjanjian” masyarakat setempat. Tetapi, kepuasan atau kenikmatan hubungan kelamin yang sama juga dinikmati oleh binatang-binatang.

4. Dalam hal membela diri, biasanya binatang-binatang membela dirinya secara wajar dan alami, serta tidak berakibat merugikan yang lainnya. Sedangkan pembelaan diri manusia, sering harus “nyenggol kanan-kiri” dengan alasan yang dicari-cari.

Jadi, keempat hal tersebut, yang dibutuhkan oleh manusia, dibutuhkan juga oleh binatang. Cara pemenuhannya berbeda, tetapi jenis kenikmatannya adalah sama.

Jika manusia mengembangkan perjalanan hidupnya hanya di seputar keempat kebutuhan tersebut, walaupun dengan cara terhormat, tetap saja ia tidak bisa disebutkan cukup maju, paling tidak secara spiritual. Bahkan secara spiritual, seharusnya mereka tidak berhak menyebutkan dirinya maju atau lebih maju dari jenis-jenis kehidupan lainnya.

Orang-orang yang cerdas secara rohani, akan segera menempuh cara-cara tertentu untuk menghindarkan dirinya dari “tangkapan” perputaran kesengsaraan duniawi, yang diwakili oleh proses kelahiran dan kematian berulang kali. Usaha peningkatan kesadaran spiritual, mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, merealisasikan Jati Dirinya, hanya dapat dilakukan oleh manusia, dan itulah kelebihan hidup manusia dari jenisjenis kehidupan lainnya.

Kitab-kitab suci dan wejangan-wejangan leluhur juga menekankan bagaimana penting, mulia serta “langka”-nya kehidupan manusia ini. Orang-orang yang mengabaikan kehidupan manusianya, dapat dikatakan sebagai pembunuh Jati Dirinya. Umat manusia seharusnya merasa amat bersyukur dengan memiliki “perahu” badan wadag manusia, apalagi jika ia cukup awas untuk memanfaatkan perahu tersebut demi menyeberangi lautan luas kesengsaraan duniawi. Untuk itu, ia memerlukan nakhoda atau kapten kapal yang ahli, yaitu Guru Spiritual yang bonafid. Hanya nakhoda yang bonafid dapat membantu mengemudikan kapal/perahu tersebut menuju ke seberang.

Sang nakhoda juga harus ahli mengendalikan sang angin, yaitu wejanganwejangan Tuhan yang diturunkan lewat para utusan-utusan Tuhan dan Guru-Guru Suci. Ya, perahu kehidupan manusia hanya memerlukan nakhoda ahli (Guru Spiritual bonafid) dan angin yang mengarahkan perahu (wejangan-wejangan suci). Dengan demikian, ia akan selamat sampai di seberang, menyeberangi lautan perputaran kesengsaraan duniawi yang sangat luas.

Kehidupan manusia diyakini didapatkan setelah melewati ribuan penjelmaan. Hanya dengan benih-benih perbuatan saleh di dalam kehidupan atau penjelmaan-penjelmaan yang lampau sajalah seseorang bisa mendapatkan badan manusia. Kehidupan manusia dapat disebutkan sebagai akar yang dapat mengembangkan ribuan batang, cabang, dan ranting berbagai  kebaikan.

Oleh karena itu, mereka yang serius berkeinginan untuk mendapatkan kebahagiaan sejati, hendaknya segera mencari bimbingan Guru Suci yang bonafid, mendapatkan inisiasi dan tuntunan suci darinya. Pencarian Guru Suci sesegera mungkin tidak berarti kita mencari secara membuta. Pencaharian harus dilakukan dengan tenang, sabar, dan penuh ketelitian spiritual. Sebab, seorang Guru Suci harus mempunyai kualifikasi yang sempurna, yang tidak segera dapat dikenali oleh sang murid.

Paling tidak, kualifikasi sang Guru Suci dapat dinilai dengan melihat sejauhmana kedamaian yang dimilikinya, sejauhmana ia mengetahui Kebenaran Sejati, Kebenaran tentang Tuhan Yang Maha Esa, dan sejauhmana pula ia melelapkan keseluruhan dirinya pada Tuhan Yang Maha Esa. Ia harus pula telah mengatasi keakuan palsu, mengalahkan hawa nafsu dan musuh-musuh lainnya, hidup suci, sangat teliti dan berhati-hati di dalam jalan spiritual, tidak angkuh dan sombong, mampu mengontrol diri, tunduk hati dan memiliki minat besar untuk mengenal tentang kebenaran Sang Super Power, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Mereka yang selalu mantap dalam perlindungan kepada Guru Spiritual, akan mantap pula di dalam perjalanan spiritualnya dan secara pasti maju di dalam realisasi sang diri. Mereka yang mencoba mencari kebenaran tanpa bimbingan Guru Suci, mereka yang mencoba melakukan pencarian lewat meditasi tanpa arah, melakukan meditasi tanpa mengerti nilai spiritual dan kesucian, tanpa berpantang, tanpa pengendalian diri, diibaratkan sebagai orang yang mencoba berlayar di lautan luas tanpa nakhoda. Ia hanya akan sibuk “mengendalikan” atau “dikendalikan” oleh kuda-kuda liar sang pikiran dan khayalannya. Kapten tersebut seharusnya adalah seorang “a genuine spiritual master”. Ia mampu bahkan mengawasi muridnya dari jauh, mengisi muridnya dari jauh, tetapi di saat yang sama, ia tetap membiarkan “kebebasan” pilihan sang murid. Orang suci yang tidak dikemilaukan oleh kerumunan para pengikut atau pujian-pujian….

(Darmayasa)
DIVINE LOVE/070405



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments