Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Mengundang Sang Pencuri

Sat, 12 Jun 2021, 14:47:52, 1088 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam kasih,
   
Beberapa waktu lalu saya menyampaikan kepada dua orang ibu-ibu untuk membuat buku harian spiritual. Buku harian tersebut bertujuan untuk membantu menimbang-nimbang perkembangan spiritual pribadi, yang harus dilakukan dengan jujur dan tekun setiap hari.

Apa yang dituliskan haruslah jujur, karena ia bukan untuk ditunjukkan kepada orang lain, melainkan untuk dipertanggung jawabkan kepada diri sendiri. Sebab, jujur terhadap orang lain belum berarti banyak sebelum ia mengarah, mendasar dan menuju kepada kejujuran pada diri sendiri.
   
Buku harian tersebut terdiri dari dua lembar, yaitu bagian kiri dan bagian kanan. Bagian kiri diperuntukkan bagi kekurangan dan keburukan diri kita dan lembar kanan untuk pencatatan dan penilaian tentang kebaikan diri sendiri.
   
Posisi lembaran buku harian itu tidak boleh ditukar, misalnya lembar kiri untuk mencatat kebaikan atau kelebihan diri sendiri. Kenapa? Sebab..., kalau kita menuliskan kelebihan, kebaikan dan kemampuan diri sendiri di lembar sebelah kiri, maka itu berarti kita akan melihat kelebihan diri sendiri terlebih dahulu dibandingkan dengan kekurangan atau kelemahan diri kita.

Dalam perjalanan spiritual, kita harus lebih mementingkan pengelihatan kekurangan, kelemahan atau keburukan diri sendiri terlebih dahulu dibanding dengan kebaikan yang kita miliki, sebab kita harus memperbaiki dan membentuk diri kita dan bukan menyanjung diri.

Penyanjungan diri cendrung mengantarkan kita untuk melupakan atau melewatkan kesempatan indah untuk memperbaiki dan menyempurnakan diri. Itu berarti... kita telah gagal sekian langkah...
   
Mengapa kita perlu membuat buku harian seperti itu? Ya mengapa??? Karena kita perlu memajukan diri kita, kita perlu mengikis kekurangan-kekurangan yang ada dalam diri kita..., bahwa kita harus membuang kotoran-kotoran yang telah melekat kuat dalam diri kita, yang secara keliru sering kita anggap sebagai harta karun, harta warisan atau sebagai intan permata yang kita tidak mau melepaskannya begitu saja.

Dalam hal ini, kita memang sangat memerlukan sosok Pencuri..., kehadiran pencuri untuk mencuri dan menghilangkan semua harta karun palsu tersebut, sehingga kita terlepas dari ikatan ketatnya. Semasih tangan kita terikat ketat, kita tidak akan bebas, kita tidak akan mampu berbuat apa pun.

Hal ini persis seperti seorang anak kecil yang menyukai mainan terbuat dari tanah yang kotor, ia sangat lekat padanya dan tidak ingin lepas darinya.

Nah..., dalam keadaan seperti itu, ia memerlukan kehadiran orang tua atau guru kelas atau kakaknya untuk mencuri secara diam-diam mainan kotor tersebut. Mainan tanah yang akan mengotori dirinya dan juga lingkungan rumah.. Untuk itulah orang tua akan mencurinya dan akan memberikan mainan yang baru dan jauh lebih baik dari mainan kotor tersebut.

Kita harus mengakui dengan jujur bahwa diri kita banyak kekurangan, kelemahan dan kotoran-kotoran adat kebiasaan lain yang berjumlah ribuan... untuk kita halau dari dalam diri kita, demi mendapatkan hal-hal yang jauh lebih baik.

Sepanjang hal-hal buruk masih banyak mengisi diri kita, maka hal-hal baik dan spiritual tidak akan berkenan memasuki diri kita. Kita akan mengalami kesulitan untuk meningkatkan diri kita, atau kita bahkan akan gagal memajukan spiritual kita.

Disanalah peran penting yang dapat dilakukan oleh Sang Pencuri, yaitu Tuhan YME, Sang Guru Sejati... untuk menyelamatkan, untuk membersihkan muridnya dari berbagai kotoran yang menghalangi kemajuan spiritualnya.

Pertanyaan di sini adalah: sejauh mana ketulusan semangat dan sejauhmana kita mempunyai tekad keras untuk mengundang datangnya Sang Pencuri memasuki "rumah" kita?

(Darmayasa)
DIVINE LOVE / 12 03 05



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments