Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Mengambil Permata Diantara Milyaran Permata

Sat, 15 May 2021, 08:40:21, 1103 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam Kasih,

Dalam melaksanakan meditasi angka, kita terkadang cenderung menurunkan diri terlalu jauh, dalam arti kita menganggap bahwa diri kita terlalu lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam keadaan seperti itu kita akan membuang dengan tidak hormat segala kualifikasi yang telah dihadiahkan oleh Tuhan YME kepada setiap insan-nya. Kita telah menghina berkah Tuhan YME tanpa kita sadari dan kita menghias penghinaan tersebut dengan kata rendah hati, tunduk hati dan lain sebagainya.

Guruji selalu berpesan... "jadilah manusia" ya.... Jadilah manusia. Manusia artinya mereka yang berlimpahan sifat-sifat baik dan mulia, mereka yang menghargai kualifikasi yang ada di dalam dirinya dan berusaha dengan segala kemampuan untuk mengenali kualifikasi-kualifikasi tersebut. Setelah itu ia akan berusaha memanfaatkannya demi kemajuan spiritualnya.

Biasanya seorang murid selalu menyerahkan dirinya pada kata-kata guru, menyampaikan kekagumannya pada kata-kata guru, tetapi tidak melaksanakan kata-kata gurunya. Dia berdiri di pinggir jalan lalu lintas spiritual hanya sebatas mengagumi kata-kata gurunya saja. Ia pun mencakupkan tangannya, tetapi semua itu tidak cukup. Kekaguman bukanlah menunjukkan sifat-sifat mulia dan indah sang murid. Kekaguman cenderung mengantarkan orang menjadi orang lemah. Ia akan berbangga dan menganggap dirinya maju dengan cara mengagumi kata-kata guru, padahal ia hanya berdiri di seberang sana tanpa tangannya memegang sebutirpun perintah guru, alias ia bertangan kosong.

Lama-kelamaan, sifat tersebut akan berkembang menjadi sifat penjilat. Ia akan menjilat secara spiritual dan tidak mampu berbuat apa-apa dalam menunaikan perintah atau ajaran-ajaran gurunya. Untuk itu, disini diperlukan keahlian serta kejelian seorang murid untuk mengambil sebutir mutiara kata guru dan langsung memegang kata/perintah/ajaran tersebut sebagai "vrata" atau sumpah suci hidupnya.

Ia akan berusaha dengan sekuat tenaga, perhatian dan kemampuannya untuk mensukseskan dirinya dalam mewujudkan katakata/perintah/ajaran gurunya tersebut. Ia akan bertanggung jawab terhadap tekadnya itu, tentunya bukan tekad yang hanya hangat dua tiga hari saja, melainkan tekad sampai berhasil/terwujud. Ia harus melihat hasil dari jerih payahnya untuk mewujudkan perintah gurunya.

Kata-kata guru bagaikan mutiara-mutiara. Milyaran mutiara tiada gunanya kalau hanya untuk dikagumi. Ambillah satu mutiara dan jadikan ia sebagai "sutra" (tali penghubung yang sangat kuat) dalam hidup spiritual. Dengan demikian, seorang murid tidak akan memerlukan mantra lain lagi dalam hidupnya. Ia telah mempunyai mantra kuat (siddhi) dalam bentuk kata/perintah/ajaran guru. Ya..., katakata/perintah/ajaran guru jika diterapkan dan diamalkan di dalam hidup sehari-hari, ia akan menjadi mantra siddhi/sakti.

Jadi, memegang sebuah kata guru itu sudah cukup sebagai jembatan kuat untuk menyeberangi lautan kesengsaraan. Tentu saja harus jeli dan cekatan memilih kata-kata/perintah guru yang cocok dan sesuai dengan keadaan serta kemampuan diri kita, itulah yang dipilih dan dijalankan. Jangan membiasakan diri untuk mengagumi kata guru tanpa berniat untuk mewujudkannya. Ini adalah tingkat awal anda berguru, atau boleh dikatakan, anda belum mengerti apa dan siapa guru jika anda hanya mengagumi kata/perintah/ajarannya.

Jadilah orang yang menjalankan dan bukan orang yang hanya mengagumi petunjuk guru. Nah, ketika anda menjadi orang yang menjalankan ajaran/perintah guru, maka tanpa disadari, jutaan kualifikasi indah akan bermunculan mendukung jalan yang anda sedang tekuni, membantu mengarahkan kepada kesuksesan dan bukan sebagai pendorong untuk lebih melaju ke arah jurang dalam. Itulah yang dinamakan guru-seva, yaitu pelayanan pada guru.

Yang dimaksudkan adalah bahwa guru akan sangat berbahagia jika melihat seorang muridnya melakukan apa-apa yang diajarkan, mempraktekkan apa-apa yang dituntunkan dan beliau tidak lebih berpuas hati lagi dari pada itu. Beliau ingin melihat muridnya sebagai “pelaku spiritual” dan bukan pengagum spiritual. Pelayanan pada guru dalam bentuk mencucikan pakaian, memijit, memasakkan dan lain-lain, tidak begitu memuaskan sang guru. Sebab beliau ingin melihat muridnya melaksanakan apa-apa yang diajarkan dan diperintahkan. Sebab, dengan melaksanakan ajaran/perintah guru, maka sang murid akan mendapatkan perhatian ekstra sang guru, selain ia akan lebih cepat maju dalam perjalanan spiritualnya. Ia juga akan selalu di "intip" oleh gurunya untuk diberikan tambahan-tambahan ajaran lagi. Di sinilah perlunya kejelian orang dalam berguru, sebab guru memiliki karunia/ajaran tanpa batas. Beliau ingin memberikan semua ilmu yang ada padanya kepada muridnya, tetapi di saat yang sama beliau tidak ingin muridnya justru malah terganggu atau gagal berantakan karena dipaksakan dengan beban-beban ajaran-ajaran yang sambungmenyambung.

Jadi untuk itu diperlukanlah yang namanya "patra" dalam meditasi angka. Patra sangat ditekankan dan perlu diperhatikan oleh mereka yang ingin maju dalam jalan meditasi angkanya. Patra artinya wadah. Jadi wadah itulah yang pertama kali harus memenuhi syarat. Guru akan menuangkan isi sebanyak atau semampu wadah itu menerimanya. Guru tidak ingin patra atau wadah itu justru hancur berantakan karena dipaksakan diberikan isi, bagaikan periuk tanah yang masih belum begitu matang tetapi dipaksakan dituangkan air.... Hasilnya hanyalah kehancuran bagi sang periuk.

Mengingat kalimat-kalimat di atas, kita dapat meneliti bahwa pada akhirnya kemajuan orang tidak akan sama dan pelajaran yang diberikan juga tidak akan sama. Oleh karena itulah, maka murid perlu memikirkan dirinya lebih banyak agar lebih maju dari posisi dimana ia berada sekarang. Tentu saja sambil memikirkan untuk membantu orang lain. Tetapi untuk itu, ia tidak akan membiarkan dirinya jatuh terpuruk dan gagal spiritual hanya karena demi orang lain.

Hal ini bukan berarti kita mengembangkan sifat mementingkan diri sendiri, melainkan adalah suatu bentuk kecerdasan untuk menjadikan diri kita lebih sempurna demi orang lain. Kita tidak akan bisa mengajarkan orang lain hitungan-hitungan matematika lebih jauh jika kita hanya bisa mengitung dengan memakai potongan-potongan lidi. Kita tidak akan mampu membimbing orang lain berjalan benar jika kita hanya baru bisa merangkak.

Seorang pemeditasi angka yang jeli, akan menyediakan waktu serta kesempatan untuk membentuk diri secara pribadi. Ia akan secara sadar menyediakan waktu dan kesempatan untuk itu. Sekali lagi, hanya dengan cara seperti itulah ribuan kemampuan lainnya akan bermunculan dari dalam diri seseorang. Kalau tidak, segala kualifikasi akan mengendap dan menunggu waktu lenyap bersamaan dengan semakin melemahnya badan dan jiwa kita karena terbawa perkembangan usia. Itulah yang dimaksudkan dengan teknik mengambil permata diantara milyaran permata.

(Darmayasa)

DIVINE LOVE / 12 04 05



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments