Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Memukul Kepala Dengan Tongkat

Sat, 06 Nov 2021, 10:56:51, 1153 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam kasih,

Untuk mulai memasuki alam spiritual atau medan spiritual dengan meditasi, semakin banyak orang bermeditasi dan mengembangkan kesadaran divine-love, maka dunia ini akan semakin tersenyum. Kita harus menyadari dan harus prihatin bahwa yang menjadi tujuan kita bukan hanya sekedar teori saja, tetapi masuk ke dalam kesadaran yang jujur/murni dan kemudian dilanjutkan ke dalam sebuah tindakan.

Kita harus prihatin karena dunia ini lebih banyak diisi oleh rasa risih, rasa perbedaan, rasa iri, pemecah belahan melalui agama, suku dan lain-lain. Kita harus prihatin terhadap hal-hal seperti itu dan kita harus melakukan sesuatu untuk mulai menciptakan suasana baru, yaitu suasana indah, suasana penuh kasih yang murni, penuh persahabatan, kekeluaragaan, dan suasana tanpa mencari-cari perbedaan serta pertentangan, melainkan menciptakan suasana keindahan dari teman kita, sehingga kita bisa hidup berdampingan dengan indah serta penuh suasana kerukunan dengan penuh kasih.

Adakah yang lebih indah dari hal ini? Dan kalau kita mendapat kesempatan (atas karunia Tuhan YME) untuk melakukan sekedar pelayanan di dalamnya, bukankah itu sebuah kesempatan indah? Bukankah hal itu merupakan keberuntungan spiritual yang sangat berharga bagi kehidupan kita? Dan apa lagi ia akan secara pasti memberikan kesehatan, ketenangan dan kedamaian bagi kita. Sesuatu yang sangat kita butuhkan dalam hidup ini.

Saya harap teman-teman sesegera mungkin untuk mulai mengertikan meditasi angka bukan hanya secara teori saja, melainkan kita harus memberikan diri kita kepada dunia. Kita harus melakukan sesuatu, kita harus menjadi bagian dari misi suci ini, dan kita harus mengeluarkan diri kita dengan paksa, walau perlahan dari kungkungan material yang penuh nafsu, kemarahan, iri hati, kesakitan, ketidak tenangan, kesemrautan dan sebagainya.

Itulah arti dari kalimat indah dari Guruji, "Jadilah Manusia." Bahwasanya belum berhak kita mengatakan diri kita sebagai manusia, hanya karena kita telah bekerja dan berhasil membuat atau membeli rumah dan ditambah sempat sembahyang sekali dua kali dalam sehari, atau sekali seminggu, atau bahkan hanya sekali dalam sebulan. Belum...., menurut saya belum...

Menjadi manusia tidak hanya sampai di sana saja, tetapi masih jauh di garis depan sana, dimana kita perlu melangkahkan kaki kita menuju ke sana, ke garis maha indah itu. Dan dari batas garis indah itu, kita harus melangkahkan kaki kita ke depan menuju dunia indah yang penuh ketenangan dan kasih. Di sanalah kita baru berhak merasa menjadi manusia yang sebenarnya.

Sedangkan kita saat ini masih berada di bawah garis kebinatangan dan hal itu perlu kita sadari dan garis bawahi. Untuk itu, dari segala arah serta segala kesempatan, kita hendaknya mencoba melakukan sesuatu yang indah dari kegiatan spiritual, yang bertujuan untuk memberikan kebaikan kepada orang dan segenap makhluk lainnya. Saya kira memang itu yang harus kita tuju dengan kemantapan batin dan bukan hanya sekadar kumpul-kumpul untuk menghibur diri saja.

Kita jangan mengulangi apa yang kebanyakan sedang terjadi di masyarakat, bahwa mereka mengadakan perkumpulan spiritual, tetapi sebenarnya mereka hanya mengadakan sebuah hiburan dari pertunjukan spiritual. Mereka tidak meminum amerta spiritual, tetapi mereka sedang mengobrak-abrik amerta spiritual, atau mereka hanya mengagumi amerta spiritual.

Kita sebagai seorang sadhaka meditasi angka..., hendaknya menyadari drama-drama yang sedang dipentaskan di berbagai panggung masyarakat. Tetapi harus selalu diusahakan agar kita tidak menjadi bagian dari permainan drama tersebut. Sederhana saja..., lakukanlah hal sekecil apa pun, tetapi mampu membuat orang lain menjadi tersenyum, membuat orang lain menjadi sehat, membuat orang lain hidupnya menjadi lebih damai dan sebagainya.

Ada yang hidup dalam kekurangan, tetapi dengan ketekunannya bermeditasi angka, kemudian mereka bisa merasa lebih damai. Ada pula mereka yang berkecukupan, tetapi setelah melaksanakan medang kehidupnya akhirnya menjadi lebih damai. Itu adalah sesuatu yang pasti. Dan kalau memang hal itu sudah pasti..., lalu mengapa kita tidak melakukannya? Mengapa kita masih lelap dalam selimut tebal kemalasan spiritual?

Itulah ‘tongkat’pertanyaan yang perlu dipukulkan ke kepala kita setiap hari, agar kita selalu bersemangat melangkah di jalan spiritual dengan mantap.

Sriguru,
Darmayasa
DIVINE LOVE / 03 01 06



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments