Melihat Semua Sama (III)
Sat, 10 Dec 2022, 16:12:26, 1499 View Administrator, Category : Reflection Series
Reflection Series
Salam kasih,
Ketika lelaki penuh nafsu dan kegelapan melihat seorang wanita, kepala mereka langsung dipenuhi oleh berbagai jenis khayalan kenikmatan seksual. Sebaliknya, ketika seseorang yang telah mencapai tingkat kebijakan spiritual melihat seorang wanita, maka mereka akan melihatnya sebagai seorang ibu, sebagai seorang dewi surgawi yang penuh berkah dan perlindungan spiritual. Dan memang, penampakan seorang wanita yang paling indah adalah sebagai seorang ibu, suatu penampakan yang sangat sempurna dan satu-satunya penampakan yang paling harus diusahakan oleh seorang pe-Meditasi Angka yang baik.
Bagi seorang pe-Meditasi Angka, istri adalah ibu dari anakanaknya. Ketika kita mengatakan ibu anak-anak, maka di sana akan tersimpan rahasia bahwa istri pun bukanlah "obyek" kenikmatan, atau pemuasan nafsu kita. Namun ia adalah orang yang sangat mulia, karena membesarkan anak-anak kita dalam berbagai hal, termasuk membesarkan dalam sopan santun spiritual, dan bukan hanya membesarkan dalam badan dan pendidikan. Begitu pula dengan contoh-contoh lainnya, dimana ia merupakan dua sisi berlainan arah/tujuan.
Dengan demikian, seorang pe-Meditasi Angka tidak akan terpancing oleh kesenangan kelas rendahan, karena ia harus menuju kesenangan yang tinggi dan halus. Kesenangan dimana terdapat hanya kebahagiaan tanpa disusul kedukaan. Dalam usaha mencapai kesadaran seperti itu, ia akan lebih mengkonsentrasikan dirinya dalam tujuan, melalui berbagai hal.
Cara yang paling bagus adalah melalui pelayanan yang tulus kepada orang lain. Pelayanan yang dimaksudkan adalah pelayanan tanpa pamrih, suatu pelayanan yang dilakukan demi kesejahteraan makhluk hidup lain, dan demi kesejahteraan orang lain. Aturan indah dalam hal spiritual adalah, kalau kita ingin berbuat sesuatu untuk kesejahteraan orang lain, maka kita tidak boleh membeda-bedakan orang dalam segala hal, baik usia, warna kulit, asal usul agama, suku dan lain-lain, karena semua itu akan sangat kuat menggagalkan pelayanan yang kita lakukan.
Sama halnya seperti apa yang Kabir das katakan, begitu banyaknya ia melakukan doa demi kesejahteraan orang lain, tetapi ia tetap tidak begitu peduli dengan orang-orang banyak itu. Ia tidak mengharapkan sesuatu dalam bentuk apapun dari orang lain. Ia tidak bermusuhan dan tidak berteman dengan orang lain. Ia hanya konsentrasi pada tujuan pelayanan untuk kesejahteraan orang lain. Ketika ia berteman (maaf ini tanda kutip yang memiliki arti sangat luas) maka ia akan memboroskan waktunya yang berharga dalam mendoakan orang lain. Ketika ia bermusuhan dengan orang lain (ini juga dalam tanda kutip) maka ia pun akan kehilangan segala power, segala kesempatan dan segala waktu berharganya, dimana seharusnya ia dapat konsentrasikan untuk lebih banyak melakukan pelayanan kepada orang/makhluk lain. Ia hanya ingin tetap berada dalam kedudukan aslinya sebagai Atma, sang roh yang bebas dari sentuhan dualisme, sentuhan baik-buruk, puji-cemoh, suka-duka.
Demikianlah pandangan seorang pe-Meditasi Angka. Ia tidak akan memboroskan waktunya dengan terlalu banyak berhurahura dalam berteman dan juga dalam bermusuhan. Kedua itu, baik teman maupun musuh, juga merupakan perwakilan dari suka dan duka. Dalam hal ini kata teman dan musuh itu adalah tanda kutip yang perlu kita kupas dengan teliti. Dalam berteman terdapat berbagai jenis. Antara lain, ada yang namanya mitra, sumitra, kumitra, sakha, saha-pathi dan lain-lain.
Kesimpulannya, hal sangat penting yang ingin saya sampaikan di sini adalah, bahwa Meditasi Angka kita tidak akan terikat dalam keinginan untuk mengumpulkan pengikut/orang, dan juga tidak begitu peduli dengan orang-orang iri/bermusuhan kepada kita. Semua itu merupakan urusan mereka masing-masing. Sedangkan urusan kita adalah berusaha berbaik kepada musuh dan juga berbaik pada teman, serta tidak terganggu oleh keberadaan mereka. Musuh atau teman, bagaimana perilaku mereka terhadap kita, maka itu adalah urusan mereka. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kesadaran dan perilaku kita terhadap musuh dan terhadap teman tersebut.
Beberapa hari yang lalu saya pergi mandi ke sungai Gangga. Pertama kali saya mendapat kesempatan mandi di sungai Gangga pada tahun 1982. Sedangkan di daerah yang saya kunjungi kemarin itu, saya telah akrab sejak tahun 1984/5.
Tetapi, ternyata saya mendapatkan suatu tempat baru yang sangat tenang dan damai. Di kejauhan sana terdapat pepohonan rindang yang tumbuh dengan lebat, indah dan tampak berjejer teratur, disusun rapi oleh tangan-tangan alam. Di tengah-tengah sungai Gangga yang cukup luas itu terdapat sebuah pulau kecil tetapi subur. Nah di sana saya bertemu dengan banyak pendeta. Ketika mandi di Gangga, biasanya saya selalu mandi atas nama leluhur, keluarga, roh-roh gentayangan, teman-teman pe-Meditasi Angka dan lain-lain. Tetapi pada hari itu, saya merasa mendapat berkah khusus dari Dewi Gangga. Saya mulai mandi khusus, setelah mandi atas nama semua yang disebut di atas tadi, maka saya mulai mandi untuk mereka yang membenci, bermusuhan, iri, dengki, menipu saya, dan lain-lainnya. Itulah tambahan mandi saya sejak saat itu. Kalau yang biasanya saya selalu mandi atas nama pe-Meditasi Angka, yang dulunya saya pisahkan dengan anak istri, tetapi sekarang saya gabung dengan anak istri. Jadi, saya menerima para pe-Meditasi Angka sama seperti saya menerima keluarga saya sendiri.
Kebencian orang lain terhadap saya adalah amerta bagi saya. Kasih orang kepada saya juga adalah amerta bagi saya. Karena ia memberikan segala kebaikan pada saya, jadi kepada mereka yang membenci, saya sangat berterimakasih kepada mereka. Yang menyayangi, saya juga sangat berterima kasih. Keduanya indah di mata saya. Memang keduanya berbeda, tetapi itu urusan mereka masing-masing. Itulah cinta kasih yang akan mengubah benci/racun itu menjadi amerta/sumber kehidupan. Saya kira Itulah kehebatan “divine love”; langsung doakan dan dalam batin berikan segala kesadaran baik kepada mereka, berikan segala kasih kepada mereka, maka segala keburukan mereka akan berubah menjadi amerta. Jangan terganggu oleh kebencian, tetapi ubahlah kebencian itu menjadi amerta dengan teknik sederhana, bahwa kita tidak terpancing membenci orang. Memang sesungguhnya, kita tidak berhak membenci orang. Sebaliknya, kita hanya berhak untuk mengasihi orang lain. Demikianlah..., semoga semua berbahagia.
Selesai.
Sriguru
(Darmayasa)
DIVINE LOVE/060506
Menyambut Masalah Bersama Guru Sejati
Tidur Bersama Tuhan
Memetik Bunga dan Buah dari Meditasi Angka



