Melihat Semua Sama (II)
Sat, 26 Nov 2022, 12:41:39, 1414 View Administrator, Category : Reflection Series
Reflection Series
Salam kasih,
Dalam kitab Mahabharata disebutkan tentang bagaimana cara memelihara kesadaran agar setiap orang siap menerima suka duka dengan tenang dan tanpa terganggu. Hanya damai dan tetap berada di tempat menengah. Suka, senang, semua diterima kedatangannya dengan damai. Begitu pula duka, sedih dan lain-lain, semua juga diterima dengan tenang dan damai. Mereka barangkali berkesadaran seperti apa yang disampaikan di dalam kitab Mahabharata yaitu, “Sukhasyanantaram Duhkham” - bahwa datangnya segala kegembiraan, kesenangan, kepuasan, kenikmatan dan lain-lain, selalu akan disertai atau disusul kemudian oleh kedatangan duhkha/kedukaan. Sedangkan sebaliknya “Duhkhasyanantaram Sukham”, - bahwa kedukaan, kesedihan, kesengsaraan dan lain-lain sejenisnya, semua itu akan segera disusul oleh kedatangan kebahagiaan, kesenangan, kepuasan dan kedamaian. Mengertikan akan perputaran suka-duka seperti itu, maka orang tidak akan terlalu terganggu oleh kedatangan dan kepergian suka maupun duka, senyum maupun cemberut. Ketika mendapatkan kesukaan ia tidak akan melonjak-lonjak kegirangan, dan ketika mendapat kedukaan iapun tidak akan serta merta meratapi diri dengan begitu sedihnya.
Kesedihan dan kesenangan, semua itu merupakan hal yang sangat normal dan pasti akan menghampiri setiap insan yang hidup di dunia material ini. Tetapi, kondisi yang hendaknya kita ciptakan adalah, ketika suka atau duka datang, maka kita akan dapat menguasai diri serta tidak akan terlalu terpengaruh. Saat kesukaan datang ia tidak akan beriteriak-teriak meloncat-loncat, melainkan hanya sekadar senyum. Kenapa? Karena dalam senyumnya itu diiringi oleh putaran di kepalanya bahwa segera akan ada susulan kedukaan datang dan ia harus mempersiapkan keseimbangan kesadarannya demi menyambut kedatangan kedukaan nantinya. Sebab, kesukaan dan kedukaan itu adalah dua arah berlawanan dari roda kereta. Ketika roda berputar maka bagian atas akan berputar mengarah ke bagian bawah dan nanti ia akan di bawah. Sedangkan bagian bawah akan berputar pula mengarah ke bagian atas dan nantinya ia akan berada di atas.
Demikian pula halnya ketika orang hidup di dunia ini, akan terjadi perputaran hidup, dan suka duka akan berputar-putar datang menghampiri setiap orang silih berganti. Lihatlah para penonton dan pemain sepak bola, mereka akan segera menangis ketika team kesayangannya kalah, dan mereka akan seketika berteriak kegirangan ketika team pilihannya menang. Mereka terbawa larut oleh dua keadaan itu, yaitu suka dan duka, tawa dan tangis.
Seorang pe-Meditasi Angka menyadari bahwa suka-duka, tawa-tangis merupakan hitungan rwa bhineda (dua yang berbeda). Seorang pe-Meditasi Angka yang baik akan mengetahui dan menyadari bahwa suka/senang itu hanya menyentuh bagian luar dari indria-indria kebahagiaannya, serta tidak sampai menyentuh keseluruhan indria terdalam dari indria kebahagiaan. Ibaratnya seseorang baru sampai di depan pintu sahabatnya, kemudian ia sudah bangga dapat mengetuk pintu meskipun tanpa ada orang yang membuka. Sedangkan seseorang yang lainnya akan berpuas hati hanya ketika ia sudah berada di dalam ruang tamu sahabatnya. Sewaktu ia berada di depan pintu, orang tersebut belum akan merasa berpuas hati. Begitulah suka dan duka itu hanya menyentuh bagian luar idria-indria yang berhubungan dengan kebahagiaan, hanya mampu menyentuh suka-duka.
Bagi orang-orang yang belum paham akan kebahagiaan, mereka akan mengatakan bahwa sentuhan luar itulah kebahagiaan sejati. Lalu mereka akan lelap hanya di tempat itu tanpa berusaha mengertikan sesuatu yang lebih, bahkan jauh lebih membahagiakan daripada hanya sekadar rasa puas yang menyentuh permukaan bahagia. Lebih parah lagi jika pe-Meditasi Angka terpancing untuk lelap berada di dalam permukaan bahagia, yaitu dalam suka dan duka, maka ia akan menjadi orang yang berada di tepi jurang kedukaan/kesengsaraan, berada sangat dekat dari kejatuhan ke dalam jurang dimana ia berdiri, di tempat yang hanya selip sedikit saja, maka itu berarti ia akan berada di jurang dalam sana dengan keadaan tubuh yang hancur tercabik-cabik... Begitulah kalau seseorang membiarkan dirinya melonjak kegirangan ketika berada dalam kesenangan, dan menjerit-jerit kesedihan ketika berada dalam kedukaan.
Demi membantu agar diri tetap konsisten berada dalam tempat yang benar dan terselamatkan dari bahaya jatuh ke jurang kehancuran tersebut, maka dalam Meditasi Angka kita tekankan istilah “Santustah” atau “Samtustah”. Kata ini berasal dari kata “Sam” berarti penuh, sempurna, dan “Tustah” berarti berpuas hati, atau berbahagia. Jadi, kata “Samtustah” memberikan arahan agar kita mencari tingkatan dimana kita tidak meratap dan juga tidak melonjak keriangan dalam sentuhan suka dan duka, dimana kita akan dapat berbahagia sepenuhnya, dan itulah tujuan dari seorang pe-Pemeditasi Angka. Seorang pe-Meditasi Angka yang baik tidak akan hanya merindukan kesenangan, dan kepuasan melainkan kebahagiaan, dan kebahagiaan yang ingin ia capai adalah kebahagiaan sejati. Sebuah suasana kebahagiaan yang dipenuhi oleh kebahagiaan yang sempurna, dimana ia dapat menikmati kepuasan spiritual dan kepuasan sejati secara sempurna. Ia tidak akan mencari kesenangan-kesenangan kecil yang terbatas, melainkan kebahagiaan sempurna tanpa batas. Sekali ia mencapai kebahagiaan tersebut, maka ia tidak akan pernah kehilangan kebahagiaan itu lagi. Ia akan memiliki kebahagiaan itu dengan sempurna, tanpa batas, tanpa disusul oleh kegagalan lagi, maka itulah "kali-kalian" dari meditasi angka.
Merengek untuk kepuasan kecil dan remeh, hanya menunjukkan bahwa kita sangat terbatas memiliki kebijakan spiritual. Seorang pe-Meditasi Angka tidak akan terpancing memburu kesenangan babi. Kesenangan babi adalah kesenangan bergelimangan dalam lumpur dan ia akan segera menyeruduk makanan "five star" pagi-pagi yang disediakan oleh tuannya yang sedang jongkok membuang hajat. Jadi..., kesenangan babi hanyalah kesenangan bergelimangan dalam lumpur busuk. Ia akan merasa sangat berbahagia dapat menggosok-gosokkan badannya yang penuh lumpur ke tembok batu yang keras. Begitu pula halnya dengan kesenangan dari orang-orang yang tenggelam dalam keduniawian, yang hanyalah merupakan sebuah kesenangan dalam menikmati kepuasan indria luar, yang merupakan kepuasan tak terpuji dan diburu oleh orang-orang kelas rendahan. Kesenangan mereka hanyalah di seputar itu. Sangat bertolak belakang dengan kesenangan seorang pe-Meditasi Angka yang telah berhasil menempatkan diri dalam levet/tingkat bijak.
Bersambung...
Sriguru
(Darmayasa)
DIVINE LOVE/060406
Menyambut Masalah Bersama Guru Sejati
Tidur Bersama Tuhan
Memetik Bunga dan Buah dari Meditasi Angka



