Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Kita Bukan Penikmat (2)

Sat, 28 Aug 2021, 10:46:28, 1220 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam Kasih,

Dalam beberapa hal, dalam banyak keadaan, sebagai seorang penganut ajaran AGAMA adalah perlu melihat dunia ini dari sisi lain. Biasanya kita diantarkan melihat dunia ini dari ribuan Segi Pandang yang indah-indah. Jika kita umpamakan dari angka seratus maka sembilan puluh sembilan Segi Pandang dunia adalah Segi Pandang baik, indah, mengagumkan, menyenangkan, pemberi berbagai kenikmatan dan kepuasan. Dan satu Segi Pandang lain adalah yang biasanya dilupakan orang atau lebih tepat lagi adalah orang menghindari melihat dunia ini lewat Segi Pandang yang satu ini sebab Segi Pandang yang satu ini tidak begitu menguntungkan dia secara indria luar, tidak membujuk dia dan nyata-nyata memberikan banyak larangan. Adalah normal jika apapun yang kita inginkan, apapun yang kita senangi, apapun yang menjadi idaman kita jika tiba-tiba orang datang kepada kita lalu memberikan kata JANGAN maka kita akan menjadi tidak suka dengan jalan itu, tidak suka dengan kata JANGAN itu dan bahkan kita akan membenci orang yang memberikan kata JANGAN itu kepada kita.

Dunia memang sangat tepat disebutkan sebagai Mayapada sebab ia merupakan bagian khayalan dari dunia-dunia lainnya yang terkelompok kedalam Vaikuntha Dhama yaitu tempat utama dimana tidak lagi terdapat kecemasan-kecemasan disana. Dalam dunia khayalan ini dengan mudah kita bisa mengkhayal untuk bisa menjadi apa saja sesuai keinginan kita. Pada waktu kecil saya suka mengkhayal menjadi Pendekar Sakti dan saya menikmati khayalan tersebut dimana saya benar-benar menjadi seorang pendekar gagah perkasa dengan pedang menggelayut di punggung, ikat kepala hitam menambah kegagahan saya sebagai Pendekar Sakti, tidak kalah lagi celana sampai di bawah lutut yang memperlihatkan bentuk betis saya yang kokoh dihiasi bulu kaki yang lebat, di atasnya melingkar kain sarung dan di tangan saya yang gagah terpajang tongkat sakti. Untuk menikmati khayalan tersebut saya melupakan panggilan manis dan sayang dari ibu saya yang menawarkan makanan dan minuman. Untuk menikmati khayalan tersebut dimana dengan tongkat sakti saya membabat musuhmusuh yang berjumlah puluhan bahkan ratusan saya menolak ajakan teman-teman untuk bermain kelereng atau permainan yang lainnya, atau bahkan saya menolak membuat PR yang harus disetor ke ibu guru keesokan harinya. Demikian kuatnya pengaruh khayalan memegang kepala / kesadaran kita sehingga kita melupakan alam kenyataan.

Khayalan-khayalan kepuasan indria telah menangkap seluruh kesadaran kita sehingga kita memilih untuk melanjutkan hidup dalam kemeriahan khayalan daripada mulai membenahi diri dengan cara membaca kitab-kitab suci, mendengarkan ajaran-ajaran suci, menyanyikan mantram-mantram suci / zikir. Atau bahkan daripada melakukan sembahyang sekian kali sehari yang hanya memakan waktu beberapa menit saja. Ribuan alasan akan kita kemukakan ketika kita sedang bersemangat dalam penikmatan kepuasankepuasan indria. Seorang sesepuh agama di Jakarta pernah berkata kepada saya bahwa dirinya mengalami kesulitan untuk menyelesaikan sembahyang sekian waktunya. Jadi, sebuah kedudukan, jabatan atau profesi keagamaan tidak menjamin orangnya melaksanakan sembahyang atau ajaran agamanya.

Tidak terhitung bahkan merupakan sesuatu yang normal tokohtokoh agama Hindu masih menyukai daging sapi, atau tokoh-tokoh agama lain melanggar apa-apa yang menjadi pantangan agamanya. Ini adalah sebuah kenyataan yang tentu saja memprihatinkan. Demikian kuatnya pegangan duniawi mencengkeram diri kita sehingga lama kelamaan menyebabkan keseluruhan diri kita baik lahir maupun bathin menjadi terkotori dan tercemari. Nah disinilah akhirnya diperlukan tekhnik pengamatan keberadaan dunia ini dari satu Segi Pandang yang mengesampingkan 99 Segi Pandang lainnya yang menjanjikan segala bentuk kesenangan.

Segi Pandang yang satu ini mengajak kita untuk melihat dunia ini sebagai se ekor Buaya Kelaparan dengan mulut menganga lebar mengerikan siap menelan mangsanya. Siapakah mangsanya?! Semakin seseorang menjauhkan diri dari kesucian lahir batin, semakin seseorang mengabsenkan diri dari praktek-praktek spiritual dibawah bimbingn Guru-Guru suci maka antrian semakin terdepan baginya untuk masuk ke dalam mulut buaya yang sedang menganga lebar tersebut. Bahkan mereka yang tekun dan giat mengisi kepalanya dengan pengetahuan dan filsafat pun tidak akan terhindar dari bahaya diterkam oleh mulut buaya yang menganga tersebut jika ia tidak mempraktekkan apa-apa yang ia pelajari atau ajarkan alias jika ia hanya menjadi orang yang ahli dalam berteori, maka ia belum memenuhi syarat untuk terlepas dari antrian paksa untuk memasuki mulut buaya yang sedang menganga lebar.

Acharya Shri Kamal Kishore Goswami mengatakan bahwa setiap orang yang berjalan di jalur spiritual semestinya melihat dunia ini sebagai Seekor Buaya Ganas. Tetapi, keganasannya disembunyikan didalam tetetan air mata buayanya. Diluar ia menunjukkan lemah lembut penuh kasih dengan cara mengeluarkan air mata, namun pada saat yang sama ia mencengkeram mangsanya dengan mulutnya, “Ohhh…kasihan…kamu…, tetapi kamu kan sudah mati…, apa daya… aku sedang kelaparan… Maafkan daku….” Katanya sambil mencabik-cabik tubuh mangsanya.

Sekali lagi, itulah dunia tempat kita membanggakan diri, ia tidak lain hanyalah seekor Buaya Ganas…


(Darmayasa)
DIVINE LOVE/060405



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments