Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Kita Bukan Penikmat (1)

Sat, 28 Aug 2021, 10:44:55, 1162 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam Kasih,

Ketika berada di kelas lima SD secara teratur guru olah raga memberikan latihan-latihan olah raga yang kebanyakan dalam bentuk permainan. Dalam permainan-permainan tersebut kita banyak diajarkan berkompetisi. Begitu semangatnya kita berkompetisi sampai-sampai melupakan kawan-kawan dan saudara sepupu yang juga berada di kelas yang sama. Kita berusaha menang, kita berusaha menonjol dan pada saat yang sama kita tidak senang orang lain menang atau mononjol. Kadang kalau ada yang lain jauh menonjol dari kita, timbul perasaan tidak puas di dalam hati, ada perasaan kesal di dalam hati bahkan akhirnya kita jadi tidak bicara dengan orang tersebut dalam waktu lama. Untuk mengatasi rasa bersaing yang bercampur aduk dengan rasa iri, kesal dan amarah tersebut, malangnya,nasihat guru pun tidak mempan. Kita berbicara atau akur kembali satu sama lain hanya setelah sama-sama menginjak dewasa dan sama-sama telah berkeluarga.

Pengalaman masa kanak-kanak tersebut ternyata tidak jauh berbeda dengan pengalaman yang kita alami bahkan setelah kita menginjak dewasa. Kita hanya mengulangi pengalaman masa kanak-kanak tersebut untuk melewatkan masa-masa dewasa kita. Ketika menginjak usia lima puluh tahunan ke atas orang tidak akan mampu lagi melihat kedua pengalaman tersebut karena ia mengalami kekecewaan batin, tekanan batin, ketidakstabilan jiwa, terombang-ambing oleh keinginan, nafsu dan rasa iri hati. Pengalaman di masa kanak-kanak dengan berbagai suka-dukanya dalam berbagai untung ruginya, dalam berbagai persahabatan dan permusuhan, dalam berbagai tawa dan tangis. Semua merupakan pengalaman yang wajar dan normal. Pengalaman yang menambah indah dan manisnya masa kanak-kanak.

Akan tetapi, jikalau di masa dewasa kita mengulangi lagi pengalaman serupa yang bukan lagi suka-duka, tawa-tangis dalam permainan namun kali ini adalah dalam kenyataan hidup di masyarakat. Jika hal itu tidak kita sadari sambil kita tetap asyik berkompetisi, bermusuhan, saling iri, saling menjatuhkan, maka kita dihanyutkan habis oleh arus deras nafsu iri hati menuju kepada lautan kehancuran.

Kalau dahulu pengalaman tersebut adalah permainan masa kanakkanak maka di usia dewasa ia adalah pengalaman kegelapan orang-orang dewasa. Keadaannya persis sebagai berada di dalam terowongan yang gelap dan kering, penuh bebatuan tajam dan ularular berbahaya. Ciri utama dalam kompetisi masyarakat dewasa adalah berlomba-lomba mengumpulkan nama, jabatan, wanita dan uang. Dari kantor kecil yang staff-nya hanya 3-4 orang sampai dengan kantor besar yang staff-nya mencapai ribuan orang, kompetisi perebutan juara dalam nama, jabatan, wanita dan harta itu ada, baik secara halus maupun kasar. Semua merasakan kesenangan atau kepuasan di dalam memperebutkan nama, jabatan, wanita dan harta. Mereka tidak menyadari bahwa hidup yang sebenarnya berada di luar medan kompetisi tersebut.

Bagaikan permainan sepak bola, para pemain yang berada di dalam lapangan sepak bola tidak akan begitu mudah menilai permainannya dibanding dengan orang-orang yang berada di luar lapangan. Begitu pula, kapan kita tidak memisahkan kesadaran kita dari lingkaran kompetisi nama, jabatan, wanita dan harta maka selama itu kita akan ter-“peti-es”-kan dalam kegelapan yang paling gelap. Orang akan menganggap dirinya penikmat yang maha besar hanya dengan perhitungan ia bisa naik kendaraan kijang dari Mall satu ke Mall lain.

Orang-orang akan menganggap dirinya beruntung dan merasa Tuhan sudah dekat dengan dirinya ketika ia berhasil meminggirkan teman-teman di kantornya untuk maju menduduki kursi jabatan asisten, direktur dan sebagainya.

Orang-orang akan ber-bangga dapat berkenalan, jalan-jalan, atau mengawini wanita cantik walaupun untuk itu ia harus mengalami kerugian dan pengorbanan dalam berbagai bentuk.

Semua yang dianggap kepuasan, kebahagian di dalam mendapatkan dan menikmati nama, jabatan, harta dan wanita tersebut jika direnungkan lewat perenungan spiritual maka kita akan sampai pada kesimpulan bahwa sesungguhnya semua itu hanyalah penderitaan belaka.

Orang-orang bijaksana dan sadar diri melihatnya bukanlah sebagai penikmatan melainkan sebagai penderitaan maha besar. Mereka beranggapan bahwa mereka sedang menikmati nama, sedang berpuas hati dan menikmati jabatan, sedang berbahagia dalam memenuhi kepuasan indria-indria seksual, sedang menjadi raja diraja di dalam gemerlapan harta benda. Tetapi sesungguhnya mereka malang sekali karena tidak mengetahui bahwa sebenarnya mereka tidak sedang menikmati kemegahan nama melainkan nama itulah yang sedang menikmati dia. Bukan dia yang sedang berbangga menikmati jabatan melainkan jabatanlah yang sedang menikmati dia. Bukan dia yang menikmati kepusan-kepuasan pelampiasan nafsu seks melainkan nafsulah yang sedang menikmati dia. Bukan dia yang menikmati harta benda tetapi sebaliknya harta benda yang sedang menikmati dia. Kesemua itu, Nama, Jabatan, Wanita dan Harta tidak akan pernah bisa habis atau musnah. Sebaliknya kitalah yang akan habis dan musnah, dinikmati dan diobrak abrik oleh Nama, jabatan, Wanita dan Harta. Dan korban-korban seperti itu sudah tidak terhitung jumlahnya dalam sejarah. Akankah kita dengan rela membiarkan diri musnah dalam panggangan kenikmatan..???!!!

(Darmayasa)
DIVINE LOVE/060105



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments