Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Kembalilah Menjadi Tikus

Sat, 25 Dec 2021, 11:50:01, 1231 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam kasih,

Tersebutlah seekor tikus, sendirian, tidak punya teman dan miskin dalam segalanya. Pada suatu hari, ia iseng jalan-jalan di satu tempat, dengan niat siapa tahu ada bekas-bekas makanan yang ia bisa dapatkan. Sedang tenang dan asyik menikmati lenggang lenggok jalannya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara "ngeeeoooongg....." Si tikus kaget setengah mati. Ternyata seekor kucing telah berdiri gagah di depannya siap menerkamnya.

Melihat mata si kucing yang mendelik lebar, mulut terbuka dan air liur menetes dari lidahnya yang senang menjulur keluar....si tikus merasakan ada yang keluar dari bawah...bocor... alias keluar kencing karena shock, kaget, ketakutan.... Tetapi ia masih agak sadar diri sehingga ia sempat melarikan diri. Dalam perjalanan penyelamatan diri tersebut, ia melihat seorang pendeta duduk bertapa. Si tikus datang mendekati pendeta, bersujud baik, menunduk dan menyembah serta mengeluarkan kata-kata manis menarik., "Tuan Maharesi yang baik hati..., saya si tikus bernasib malang, terlunta-lunta di tengah hutan lebat penuh bahaya, jiwa saya sedang terancam. Saya menderita sekali, saya takut sekali. Saya tidak mengerti apa yang harus saya lakukan untuk menyelamatkan diri. Anda adalah pendeta penuh welas asih. Mohon berkenan menyelamatkan saya dari mara bahaya ini."

Pendeta bertanya, "Apa yang aku dapat lakukan untukmu wahai tikus yang malang???" Tikus segera menjawab, "Ya Maharesi, hidup saya terancam dari kejaran kucing. Mohon berkenan menjadikan hamba kucing, agar tidak lagi dikejar-kejar oleh kucing..." Maharesi memandang si tikus dan berkata, "Jadilah kau kucing..." dan ajaib, detik itu pula ia berubah menjadi kucing.... Ia tidak lagi mempunyai rasa takut. Ia berjalan dengan gagah membuka dada lebar-lebar dan langkahnya sengaja dipertegap agar orang lain mengetahui bahwa yang lewat adalah seekor kucing gagah berani, bukan si tikus malang lagi...

Pada suatu hari, lewatlah ia di satu tempat, di pinggiran desa , masih tetap gagah tanpa rasa takut, bahkan ia mulai menakut-nakuti para tikus. Namun tiba-tiba, ketika ia menengadah, ia melihat air liur menetes yang keluar dari lidah menjulur keluar... ya itu lidah seekor anjing.... Gemetarlah kakinya dan kembali ia merasakan ada yang basah "di bawah" sana.... Dan begitu anjing lengah sedikit, si kucing memanfaatkan kesempatan tersebut untuk melarikan diri. Diceritakan..., sampailah ia di hadapan sang maharesi di hutan, Maharesi yang telah membantunya menjadikan dirinya kucing.

Selama ia bergagah-gagah menjadi kucing, ia tidak pernah ingat maharesi, dan sebaliknya ketika ia menghadapi bahaya besar yang mengancam nyawanya. Dengan cara memelas yang sama, ia meminta pada maharesi agar berkarunia dan menjadikan ia sebagai seekor anjing, agar tidak diganggu lagi oleh anjing sialan itu. Maharesi pun menjadikan si kucing sebagai anjing, seekor anjing yang cukup tinggi gagah..

Begitu keluar dari hutan, hal pertama yang ia anggap pekerjaan besar dilakukan adalah MELOLONG TINGGI DAN PANJANG... sampai sempat membuat daun-daun pepohonan sekitarnya pada rontok berjatuhan kebawah... Selanjutnya, melangkahlah ia dengan tegap. Ketika melewati pedesaan, melihat para tikus ia menghentakkan kakinya, dan tikuspun berlarian kesana kemari. Ketika melihat kucing, ia menerkam membuat para kucing berlarian menyelamatkan diri kemana-mana. Ada pula kucing yang tanpa alasan ia terkam, dibanting ke tembok dan ia berbangga telah menghilangkan nyawanya. Ia merasa dirinya sudah berhak melakukan hal itu, dan perbuatannya adalah pertanda sebuah kegagahan seekor anjing terpuji. Ketika melihat para anjing, ia membentak dan memaksa mereka menghormatinya. Yang tidak mau menghormat, segera dicincang dan difitnah lewat algojonya, yang kemana dan dimana pun si anjing mengeluarkan kencingnya, para pengikutnya segera berlomba-lomba saling mendahului mendatangi dan membau kencing si anjing gagah tersebut.

Ketika ia melewati pinggiran hutan, tiba-tiba seekor harimau datang dari depan dengan jalannya yang tegap, gagah dan menakutkan. Si anjing yang biasanya membuat yang lain ketakutan, kini ia sendiri merasa ketakutan. tanpa terasa, "di bawah" sana sudah basah lagi... Namun beruntung, berdasarkan pengalaman sebelumnya, ia sempat menggunakan otaknya dan segera kabur menyelamatkan diri. Ia merasa dendam dan akhirnya sampailah ia pada Ashram tempat pertapaan Maharesi. Lama ia terdiam, sedikit bermain drama di hadapan maharesi untuk menarik perhatian dan belas kasihnya. Ia cukup sopan dan tahu diri. Ia menjadi anjing yang sangat saleh.

Maharesi bertanya, "sekarang, apa yang dapat aku lakukan untukmu anakku?" Anjing dengan tersipu-sipu menjawab pelan, "Maharesi, mohon agar memberikan belas kasih pada hamba yang malang ini sekali lagi... Mohon sekali ini saja, hamba tidak akan pernah minta apa pun lagi dari anda..., mohon sekali lagi dipenuhi permintaan hamba, muridmu yang pasrah pada kaki padmamu... engkaulah Guru dan nafas bagi hamba... Hamba minta dijadikan harimau. hamba tidak bisa hidup tenang kalau belum mencapai tingkat harimau... mohon Guru berkenan untuk itu..."

Maharesi segera menatapnya, mengangkat tangan dan bersabda, "Jadilah engkau harimau..." Dan ajaib, dalam hitungan detik, anjing tersebut telah berubah rupa menjadi seekor harimau gagah, duduk tegak di hadapan Maharesi... Tetapi tiba-tiba, tidak seperti sebelumnya, sekarang si tikus yang telah mencapai tingkat harimau atas bantuan maharesi, berpikir lain, "Ya... iya...benar...., hanya orang ini yang mengetahui sejarahku secara komplit.... Sekarang aku adalah maharajadhiraja hutan ini..., tidak ada makhluk lain lagi yang lebih tinggi dan lebih kuat serta lebih berkuasa dariku...." Tetapi ada problem kecil, walupun kecil namun ia 'sangat penting', bahwa Maharesi ini tahu sejarahku. Janganjangan ia akan menceritakan pada orang lain, pada pengikutku mengenai siapakah aku sebelumnya..." Satu-satunya cara adalah... aku harus menghilangkan pendeta ini, aku harus membunuhnya segera, sesegera mungkin, sebelum orang lain dapat melihatnya bahwa orang ini telah berjasa menjadikan aku gagah seperti sekarang ini....

Si harimau pelan-pelan mendekat ke arah Maharesi dengan niat membunuh. Maharesi mengetahui niat tersembunyi dalam pikiran rakus harimau. Beliau memandangnya sebentar dan dengan kasih disertai tenaga spiritualnya beliau memercikkan air ke arah sang harimau dan berkata, "Kembalilah engkau menjadi tikus..." Dan..., sialan..., si tikus menghentak-hentakkan kakinya ke atas tanah sambil bekali-kali berguling-guling meraung-raung menyesali diri.... Sesungguhnya tikus itu lupa, bahwa dengan menghormat dan tetap menyerahkan diri pada Guru hidup si tikus justrui akan menjadi semakin meningkat. Guru tidak akan mengambil popularitasnya malah sebaliknya akan menambah dan menerangi jalannya ke depan. Guru adalah Guru dan tetap sebagai Guru. Guru adalah kasih. Guru adalah karunia. Guru adalah masa depan. Guru adalah Tuhan. Guru adalah amerta. Guru adalah Sang Murid itu sendiri. Dan Sang murid adalah Guru itu sendiri

Di sinilah kita harus berhati-hati secara spiritual. Jangan menilai Guru tetapi dengarlah Guru. Jangan meniru tindakan Guru tetapi ikutilah langkah-langkah Guru. Seorang murid tidak akan pernah boleh duduk sejajar dengan Gurunya karena hal itu adalah kesalahan. Tetapi si tikus, lebih jauh malah mau menghilangkan Gurunya. Dia mau eksis tanpa guru. Kapan orang mau eksis tanpa Guru, maka kejatuhan adalah kepastian. Lambat atau cepat. Bentuk kejatuhan seorang murid yang paling mengerikan adalah kapan ia justru menjauh dari Jati Diri. Kapan ia menjauh dari dirinya sendiri, kapan ia bermain drama didalam spiritual, kapan ia tidak lagi memuja Guru atau Tuhan melainkan meminta orang memuja dirinya, akhirnya dalam keadaan seperti itu, power Guru akan bekerja terbalik, yaitu pelan-pelan akan memusnahkan segala kebaikan dari dalam diri orang itu dan membawanya kembali ke kegelapan, tempat ia semula berdiri.

(Darmayasa)
DIVINE LOVE/110105



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments