Kematian dan Ingat Tuhan
Sat, 13 Mar 2021, 12:55:38, 1168 View Administrator, Category : Reflection Series
Reflection Series
Salam kasih,
Kematian memang menakutkan. Barangkali bibir atau pikiran mengatakan tidak takut pada kematian. Tetapi, jika jujur ditelusuri, sesungguhnya setiap orang mengalami ketakutan akan kematian. Jangankan mati, luka sedikit saja ia akan kelabakan.
Ketidaktakutan terhadap kematian hanya akan terjadi kalau setiap hari kita membiasakan diri untuk menyadari bahwa kita ini adalah Sang Atma, bahwa kita ini adalah Sang Roh, yang bersifat kekal dan tidak terbinasakan, sedangkan badan jasmani hanyalah wadah pembungkusnya….
Saat kematian merupakan saat sangat penting bahkan saat sangat menentukan arti kehidupan seseorang. Ia akan memberikan arti pada segala usaha dan kemeriahan yang kita dapatkan mungkin selama 20-an tahun kita hidup, mungkin 40-an tahun kita hidup, mungkin 60-an tahun kita hidup, atau mungkin hanya beberapa kerlipan mata kita hidup di dunia ini.
Oleh karena itulah, dianjurkan agar orang segera mengingat Tuhan YME pada saat meninggal. Ingat dan bersujud pada Tuhan di saat meninggalkan badan kasar sangat menentukan tempat yang akan kita tuju di alam sana. Lalu, apakah saat berbahagia seperti itu akan datang bergitu saja kepada kita sebagai hadiah atas tidak melakukan apa-apa? Apakah ia akan datang begitu saja tanpa kita harus melakukan sesuatu? Tidak…. Kemampuan untuk mengingat Tuhan pada detik-detik menjelang kematian bukanlah hadiah atas tidak melakukan apa-apa. Ia merupakan hasil dari pembiasaan menyebut, mamanggil, memuja, menyembah, mengingat, meneriakkan, dan menyerahkan diri menyeluruh kepada Tuhan YME setiap hari, ya…setiap saat.
Sekali lagi jangan berharap bahwa anda memiliki ketenangan menyambut kematian, tanpa harus membiasakan diri membawa kesadaran kepada-NYA setiap hari. Hanya dengan pembiasaanlah, ingat akan Tuhan pada saat meninggal akan terjadi, dan mengantarkan kita ke tempat yang indah di alam spiritual.
Ingat pada Tuhan setiap hari harus menjadi bagian dari karakter kita, bukan bagian dari “tambahan nafkah” kita. Pelan-pelan ia juga harus menjadi sesuatu yang paling penting didalam hidup kita. Sesudah itu, barulah Tuhan YME akan memperhatikan, dan mungkin kita berhak untuk mendapat hadiah mampu mengingat NYA pada saat meninggal.
Ada dua kecenderungan yang sangat mengganggu seseorang dalam usaha ini, yaitu:
- Kecendrungan abai dan lupa bahwa selain Tuhan, segala sesuatu di dunia ini adalah tidak kekal adanya,
- Kecenderungan menunda-nunda langkah dengan menganggap bahwa ikhwal ketuhanan merupakan urusan dimasa tua.
Pada kecenderungan kedua, kita sering mengabaikan bahwa dalam perjalanan usia, terlalu banyak hal-hal yang melekat di dalam batin kita dan menjadi tali pengikat Atma/Roh untuk takut meninggalkan dunia… Selain itu, perjalanan ke usia tua juga melelehkan serta pelan-pelan menjadikan kita orang lumpuh, orang yang tidak bisa melakukan apa-apa, orang yang meratapi “kotoran”nya….
Kita juga lupa bahwa usia tua tidak menjamin untuk membuat kita sadar akan Tuhan. Kita jarang membayangkan “saat mengerikan” di masa tua ketika kita tidak mendapatkan “lirikan” dari dunia dan lingkungan keluarga serta masyarakat. Di sisi lain, kita tidak mampu membuka pintu spiritual batin kita karena ia telah di”tembok beton” oleh berbagai ikatan, baik itu ikatan pengetahuan dunia yang hebat-hebat (catatan: tekanan pada hebat untuk dunia) maupun ikatan-ikatan lainnya yang menyebabkan “program” kesadaran kita tercemar.
Dalam keadaan seperti itu, jangan harap kita bisa mengingat
Tuhan dengan baik.
(Darmayasa)
Menyambut Masalah Bersama Guru Sejati
Tidur Bersama Tuhan
Memetik Bunga dan Buah dari Meditasi Angka



