Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Keagungan Guru Sejati (4)

Sat, 14 Aug 2021, 10:57:41, 1143 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam kasih,

Sisya di dalam bahasa Sanskerta berarti dia yang mantap di dalam disiplin-disiplin spiritual. Seorang siswa harus memantapkan diri dalam disiplin-disiplin spiritual sesuai dengan arahan dan bimbingan Gurunya. Dia akan merasa sangat senang jika Gurunya memberikan disiplin kepada dirinya dan memberikan batasan-batasan terhadap tingkah lakunya. Bagi seorang siswa, disiplin-disiplin yang diberikan oleh sang Guru akan menyebabkan dia maju baik di dalam spiritual, lebih banyak selamat daripada kegagalan.

Jaman sekarang di sekolah-sekolah umum sering kali anak-anak atau murid-murid tidak dirangsang atau tidak diajarkan disiplin seperti itu. Atau Gurunya tidak memberikan disiplin tepat waktu dan keadaan. Hal tersebut menyebabkan timbulnya berbagai kejadian dimana Guru memberikan pantangan-pantangan, larangan-larangan kecil tetapi si murid membalasnya dengan kemarahan besar. Siswa itu menganggap bahwa sang Guru tidak senang akan dirinya, bahwa sang Guru marah dengan dirinya, bahwa sang Guru iri hati atas kemajuannya. Hal yang memang semua tidak kita inginkan, oleh karena itulah kata sisya untuk seorang murid spiritual perlu digaris bawahi.

Dalam pencarian seorang Guru sejati memang sering diperlukan keawasan, ketelitian dan keberhati-hatian secara spiritual. Sebab, sedikit keseleo dalam memilih Guru, ia bukannya mengantarkan kita ke jalan terang, melainkan kejalan neraka yang paling gelap. Orang yang ingin mencari kebenaran sejati hendaknya mendatangi seorang Guru yang Bonafide, seorang Guru yang dapat dipercaya ke-Guru-annya, untuk membimbing sang siswa ke arah pengenalan spiritual. Kepada Guru yang bonafide yang telah diuji ke-Guru-annya seperti itulah seorang siswa hendaknya datang, bertanya dan meminta tuntunan.

Jika ia telah menemukan Guru seperti itu, jika ia telah mengetahui Guru spiritual seperti itu, seorang siswa hendaknya banyak menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kepada Guru hanya untuk mengusir keraguan-raguannya terhadap rahasia-rahasia hidup dan rahasia-rahasia Tuhan. Ia tidak akan mengganggu Gurunya dengan pertanyaan-pertanyaan remeh atau untuk membuat Gurunya pusing tanpa alasan. Kadang, siswa yang cerdas akan menyampaikan pertanyaannya melalui pelaksanaan pelayanan.

Guru akan mengkoreksi Sang siswa atau akhirnya memberkahi sang siswa lewat pelayanan yang dilakukan sang siswa. Seorang siswa spiritual yang awas, akan memperoleh berbagai jawaban dari kedekatannya dengan Guru spiritual. Dari berbagai problem yang dihadapi, dari berbagai keraguan yang dihadapi, dari pertanyaan-pertanyaan yang dia sampaikan yang dijawab oleh sang Guru dia akan dapat mengetahui bahwa apakah Guru tersebut adalah Guru yang sejati ataukah seorang Guru yang palsu. Jika dia telah dapat mengetahui bahwa Guru yang memberikan jawaban-jawaban terhadap segala pertanyaan dan keraguannya, Guru yang memberikan jalan keluar yang tepat terhadap problem spiritualnya, Guru yang memberikan jalan terang terhadap kegelapan-kegelapan spiritual yang sedang menutupinya, maka langkah berikutnya dari sang siswa adalah langkah spiritual yang sangat menentukan langkah berikutnya.

Jika siswa telah meyakini bahwa sang Guru yang dihadapi adalah Guru sejati, maka dia akan minta diinisiasi oleh sang Guru. Inisiasi menunjukkan bahwa ia telah secara resmi diterima sebagai murid oleh Gurunya. Lebih jauh Inisiasi berarti Guru mengambil dosa-dosa muridnya dan Guru memberikan spiritual power kepada muridnya sehingga siswa bisa maju dalam spiritualnya lebih baik dan lebih mulus. Jika seorang murid tetap tulus menjalankan anjuran-anjuran Gurunya, maka dia akan memperoleh kemajuan pesat dan pada akhirnya akan mencapai pembebasan dari kesengsaraan material.

Di dalam pencarian Guru sejati pada akhirnya memang terdapat kendala, yaitu banyak orang mengalami kekecewaan karena mereka jumpai banyak Guru mengumbar kesaktian, banyak Guru yang mencari pengikut (walaupun ia sendiri sering menceramahkan bahwa seorang Guru hendaknya jangan mencari harta dan jangan mengumpulkan pengikut) yang banyak demi kepentingan pribadinya. Banyak Guru yang tidak pas di dalam tinggakah lakunya, banyak Guru yang tidak menunjukkan tuntunan sastra dari segala apa yang diperintahkannya kepada siswa-siswanya. Beberapa kitab suci menyebutkan bahwa di zaman edan yang penuh kekalutan ini akan bermunculan dan bertebaran Guru-Guru spiritual yang sangat banyak yang diumpamakan sebagai “ribuan mulut-mulut buaya” menganga dilautan siap menelan mangsanya. Dalam hal itu, seorang siswa spiritual tidak perlu harus berputus asa atau justru berbalik menempuh jalan yang tidak dianjurkan oleh sastra-sastra suci. Dia hendaknya tetap melanjutkan pencariannya, sebab bertemu dengan guru-guru palsu juga merupakan cobaan-cobaan dan ujian-ujian yang ditunjukkan oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menguji sang murid. Jika sang murid kecewa dan berbalik meninggalkan tujuan spiritualnya maka gagallah dia.

Sebaliknya, jika dia tetap dengan gigih tahan banting mengadakan pencarian spiritualnya, pada akhirnya Tuhan Yang Maha Berkarunia akan mengkaruniai jalan yang pas. Tuhan Yang Maha Kuasa akan berkenan memberikan Guru yang tepat, Guru sejati, Guru yang akan benar-benar bertujuan hanya ingin mengantarkan muridnya kepada kaki Padma Tuhan Yang Maha Esa.

Guru yang benar tidak akan memusatkan hubungan dengan muridnya lewat hal-hal duniawi, dalam arti tidak akan selalu menghubungkan hal-hal duniawi seperti uang, kesaktian dan lain-lain dalam “hubungan Guru-Murid”. Guru sejati memang sering menyembunyikan kesaktiannya atau menjauhkan muridnya dari iming-iming kesaktian demi sang murid tidak terpukau oleh harta, pengikut, kesaktian dan lain-lain yang pada akhirnya akan membawanya kepada kesadaran untuk melupakan bhakti kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Murid yang siap akan disediakan Guru yang tepat. Bilamana murid siap untuk menerima berkah Guru, disaat seorang murid berada dalam kesadaran spiritual yang sempurna, di dalam kesadaran yang betul-betul jauh dari keakuan palsu, maka pada saat itulah seorang Guru akan muncul untuk mengantarkan dia ke kaki Padma Tuhan Yang Maha Kuasa. Hubungan antara Guru dan murid hanyalah hubungan cinta kasih dan ia terlepas dari hubungan-hubungan yang bersifat ikatan-ikatan material. Seorang Guru sejati menginginkan muridnya meningkat dalam kesadaran spiritual yang lebih tinggi dan tidak begitu menginginkan untuk melihat muridnya maju atau dikenal oleh orang banyak sebagai memiliki kegaiban-kegaiban atau kesaktian-kesaktian.

Keberhasilan-keberhasilan kecil, bagi seorang Guru justru menghalangi keberhasilan-keberhasilan besar sang murid. Keberhasilan-keberhasilan besar yang dimaksud adalah keinsyafan spiritual sempurna, sedangkan keberhasilan kecil adalah keberhasilan seorang murid untuk memecahkan botol, untuk memakan beling atau untuk kebal dari tusukan pisau, untuk melakukan ‘trik-trik” agar ia dianggap sebagai orang hebat, misalnya mengajak siswanya kesuatu tempat yang sunyi, ketika sang siswa memejamkan mata, dengan tipuan tertentu “sang guru” melemparkan keris, batu permata dari kaca, arca-arca kecil” dan lain-lain seperti itu. Semoga disadari bahwa hal itu bukanlah keberhasilan. Sayangnya, sang siswa yang ditipu pun menganggap dirinya sedang memasuki tingkat keberhasilan.

---Selesai---

(Darmayasa)
DIVINE LOVE/100505



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments