Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Keagungan Guru Sejati (3)

Sat, 07 Aug 2021, 10:20:47, 1096 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam kasih,

Banyak siswa-siswa yang merasa kewalahan atau kesulitan memilih jalan-jalan spiritual atau memilih Guru yang akan memberikan bimbingan kepada dirinya. Diantaranya ada yang menerima dan ada pula yang tidak bisa menerima Guru Spiritual dalam bentuk manusia, hingga akhirnya menerima Tuhan sebagai Guru Spiritualnya. Keduanya sebenarnya tidak ada perbedaan secara prinsip sebab memang Guru Sejati adalah Tuhan sendiri, dan HANYA TUHAN. Sedangkan Guru-Guru dalam badan manusia dinamakan Guru Simbol. Di saat orang mengingat Gurunya, ia langsung mengingat Parama Guru yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Alasan utama bagi mereka yang termasuk dalam kelompok belakangan, tidak menerima Guru spiritual dalam badan manusia adalah status material dan keterpelajaran. Mereka sering menemukan Guru yang secara kecerdasan dan kedudukan ternyata jauh dari kecerdasan dan kedudukannya di masyarakat. Hal tersebut menghalanginya untuk siap menerima tuntunan spiritual dari Guru itu. Kapan sang siswa memahami bahwa Tuhan adalah Gurunya sendiri, kapan Tuhan melihat kesiapan siswa untuk menerima Tuhan yang ada di dalam dirinya tersebut mewujudkan dirinya keluar menjadi seorang Guru dalam badan manusia dan akan memberikan bimbingan kepada sang murid sehingga ia dapat berhubungan langsung dengan Tuhan Yang Maha Esa atau dapat melihat langsung Tuhan Yang Maha Esa atau dapat melayani langsung Tuhan Yang Maha Esa, maka saat itulah Parama Atma akan mewujudkan DiriNya keluar dalam bentuk seorang Guru Spiritual. Dalam keadaan seperti itu sang murid tidak akan menganggap Gurunya sebagai orang biasa, sebagai insan biasa yang sama dengan dirinya, melainkan ia akan sangat menghormati Gurunya dan mematuhi petunjuk-petunjuknya.

Seorang Guru Bonafid adalah orang yang dipercayai oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menyampaikan pesan-pesanNYA, demi kesejahteraan material-spiritual umat manusia. Seorang Guru seperti itu telah melewati “tempaan” khusus baik dalam hidup ini maupun dalam penjelmaanpenjelmaan terdahulunya.

Sebagaimana halnya orang yang mempelajari ilmu-ilmu duniawi memerlukan seorang Guru, demikian pula dalam pencarian spiritual, seorang siswa juga membutuhkan seorang Guru yang bonafid yang mampu memberikan arahan kepada sang siswa dalam menuju bhakti kepada Tuhan yang Maha Esa. Guru Spiritual seperti itu mempunyai kemampuan untuk menyeberangkan siswanya dari lautan kesengsaraan, dari kerlap-kerlipnya duniawi menuju seberang lautan untuk sampai ke tingkat spiritual dimana di akan lelap dalam bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Guru dalam bahasa Sanskerta artinya “Berat”. Dalam hal ini, seorang Guru sejati berat oleh ilmu pengetahuan suci, ilmu pengetahuan tentang Tuhan Yang Maha Esa, Guru yang mantap di dalam jalan spiritual dan ia adalah sempurna di dalam Sang Dirinya. Sempurna di dalam sang dirinya berarti ia sempurna di dalam keseluruhan dari sang dirinya, sempurna dalam kata-katanya, sempurna dalam tingkah laku, dan keseluruhan badannya pun berubah menjadi spiritual.

Guru sejati dengan setulus-tulusnya menginginkan kebaikan seorang murid, selalu menginginkan kemajuan spiritual sang murid. Guru menginginkan sang murid semakin mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, semakin memusatkan kesadarannya kepada kaki Padma Tuhan Yang Maha Esa. Sang Guru bertanggung jawab mengantarkan muridnya semakin tertarik kepada hal-hal yang bersifat spiritual dan lebih berhati-hati terhadap hal-hal yang bersifat material. Sang Guru akan mengarahkan siswanya mampu tegak dan mengatur hal-hal duniawi secara baik. Dia memiliki sebuah kemampuan untuk menempatkan segala sesuatunya pada proporsi yang benar dan tepat.

Selain itu, Guru Spiritual yang bonafid setiap saat selalu mengawasi dan menebarkan getaran-getaran spiritual serta menginginkan siswanya agar siap menerima getaran-getaran spiritual tersebut setiap saat. Guru akan mengharapkan agar siswanya siap meningkatkan kesadaran spiritualnya dengan penuh keyakinan dan ketabahan.

Guru ingin melihat muridnya menyayangi mahluk lain, menyayangi umat manusia lain, menjadi teman dari mahluk hidup yang lain. Guru ingin melihat sang siswa mengabdikan dirinya kepada orang lain, melakukan segala usaha untuk mengangkat kesadaran spiritual orang lain, untuk membuat orang lain tersenyum, untuk semakin memantapkan / menyempurnakan / menyeimbangkan (baca: mengatur dengan tepat dan benar) antara keperluan material dan spiritual, walaupun memang spiritual dan material tidak akan pernah bisa diseimbangkan.

Sang siswa akan dibentuk oleh Gurunya untuk dapat memiliki kemampuan mengatur kebutuhan-kebutuhan duniawinya dengan baik. Seorang Guru Spiritual menginginkan hal tersebut dengan pertimbangan bahwa sang siswa masih berada di dunia material, oleh karena itulah sang Guru ingin melihat kemajuan-kemajuan siswanya dalam berbagai bidang.

Hal lain yang ingin dilihat oleh sang Guru adalah kemantapan tekad sang murid untuk meninggalkan hal-hal yang buruk, meninggalkan halhal yang tidak membantu perkembangan spiritualnya dan menggantikannya dengan hal-hal baik dan kegiatan-kegiatan yang baik serta pelanpelan akhirnya meningkatkannya ke dalam tindakan-tindakan spiritual.

Adalah wajar seorang Guru ingin melihat muridnya sebagai kepribadian terbaik. Guru menginginkan muridnya memiliki pengetahuanpengetahuan, pengalaman-pengalaman yang baik, untuk memastikan dia sebagai seorang kandidat yang tepat untuk menerima pengetahuan dari sang Guru. Sering kali sang murid mengabaikan harapan-harapan sang Guru untuk menyucikan diri, membersihkan bathinnya, menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik, meningkatkan diri dan kesadaran ke dalam kesadaran spiritual. Siswa mengabaikan harapan dan perintah Gurunya, tetapi di lain pihak dia ingin sekali maju dalam bidang spiritual secara cepat. Seorang Guru tidak ingin melihat muridnya seperti itu.

Murid yang baik akan sabar menuntut ilmu dari Gurunya, tidak akan menuntut terlalu banyak tuntutan-tuntutan yang dia sendiri belum siap untuk menerimanya. Dia yakin sepenuhnya bahwa apabila dirinya sudah siap lahir-batin, maka Gurunya akan memberikan pengetahuan yang dia perlukan, atau kemajuannya sendiri yang akan menarik Gurunya untuk memberikan bimbingan-bimbingan dan pengetahuan-pengetahuan yang dia butuhkan dalam usahanya memajukan spiritual. Dalam hal ini tekad mantap sang murid untuk menjadi kandidat yang sempurna lahir-bathin adalah kunci penentu kesuksesan spiritual. Bagi seorang Guru, murid seperti itulah yang diakuinya sebagai sisya/siswa.

(Darmayasa)
DIVINE LOVE/090405



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments