Keagungan Guru Sejati (1)
Sat, 24 Jul 2021, 10:30:55, 1191 View Administrator, Category : Reflection Series
Reflection Series
Salam Kasih,
Seorang Guru yang baik sering tidak dapat atau sangat sulit dimengerti oleh seorang murid, apalagi oleh orang-orang biasa. Beliau merupakan “barang langka” atau bagaikan “ si pungguk merindukan rembulan” bagi seorang murid biasa. Kadang kala seorang Guru akan berlagak bodoh/lugu di hadapan muridnya, menanyakan sesuatu kepada sang murid seolah-olah beliau tidak mengerti apa-apa. Tetapi, di balik “ketidak-mengertian” yang ditunjukkan lewat pertanyaan tersebut, sang guru ingin mengajarkan kepada muridnya mengenai apa-apa yang ditanyakan itu tanpa harus memberikan perintah kepada sang murid.
Guru, dalam beberapa hal, jika memberikan perintah langsung, belum tentu sang murid dapat menerimanya langsung, sebab secara umum seorang siswa/murid yang belum maju, akan merasa kesulitan untuk meminggirkan egonya. Sering terjadi bahwa siswa diberikan pelajaran atau arahan oleh sang guru, tetapi berbalik murid itu memberikan pelajaran kepada sang Guru. Demikianlah sang guru secara sembunyisembunyi berusaha mengangkat muridnya menuju jalan keinsyafan diri.
Seorang guru akan memberikan berkah apa pun kepada muridnya dalam berbagai bentuk. Kadang memberikan berkah lewat pemberian inspirasi, tanda-tanda, isyarat-isyarat, contoh-contoh, dan terhadap murid tertentu kadang-kadang beliau memberikan pelajaran dengan cara disiplin yang keras, sehingga tampaknya seperti kemarahan besar, seperti kekejaman besar. Namun, dengan cara tersebut sang Guru ingin membuat muridnya kaget dan sadar akan diri, hingga menyadari bahwa dia berada di jalan yang tidak diinginkan oleh sang guru, demi mengangkat kesadaran sang siswa ke tingkat spiritual.
Sang murid yang beruntung dapat melaksanakan perintah-perintah, anjuran-anjuran, petunjuk-petunjuk dan contoh-contoh yang diberikan sang Guru dengan penuh keyakinan serta penuh bhakti, akan mendapatkan berkah khusus sang guru, yang merupakan jaminan baginya untuk memperoleh kemajuan spiritual dengan mudah, tanpa ia harus melakukan pertapaan keras pergi ke hutan sambil melakukan puasa, atau menyiksa diri dengan cara-cara yang sangat mengerikan.
Sebab, berkah seorang Guru adalah berkah yang jauh dari “tangkapan” kecerdasan seorang murid, berkah yang tidak dapat diberikan “nilai” dan tidak bisa “ditimbang-timbang” (dibandingkan/dibalas) dengan pelayanan yang dilakukan seorang murid.
Seringkali, dalam usaha mematuhi perintah sang Guru, seorang siswa spiritual harus melupakan kepentingan-kepentingan pribadi, meninggalkan berbagai hal yang ia senangi, atau ia harus menghadapi tantangan-tantangan dan cobaan-cobaan berat. Tetapi, seorang siswa spiritual yang patuh akan tetap melaksanakan amanat atau ajaran-ajaran sang Guru dengan penuh keyakinan dan tanpa mempertimbangkan untung-rugi, demi kemajuan spiritualnya, dan hanya demi kelelapannya di dalam kemajuan spiritualnya.
Tokoh nomor dua Pandava, Sang Vrekodara atau Bhima, walaupun mengetahui perintah Gurunya (pendeta Drona) adalah perintah yang “impossible”, suatu perintah yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh insan manusia, atau kalau toh mungkin dapat dilakukan, ia tidak mungkin akan memberikan hasil. Tetapi Bhima, tanpa terganggu sedikitpun oleh bayangan perintah “impossible” tersebut, ia tetap mantap melakukan perintah Gurunya tanpa goyah sama sekali. Bagi seorang Bhima, perintah Guru adalah perintah Tuhan. Dan Bhima melaksanakan perintah tersebut tanpa tanda tanya sedikit pun.
Ceritanya adalah Guru Drona memberikan perintah kepada Bhima untuk mencari Tirtha Amerta di dasar laut (walaupun di balik perintah tersebut Drona Acarya bermaksud membunuh Bhima demi memenangkan Kaurava). Bhima melaksanakan perintah tersebut dengan patuh dan penuh rasa bhakti pada Guru. Bhima masuk ke laut, masuk semakin jauh ke dalam laut. Bhima menemukan halangan-halangan berat selama pencarian tersebut, namun pada akhirnya ia berbahagia mendapatkan Tirtha Amerta yang dimaksud.
Peristiwa atau cerita Bhima mencari Tirtha Amerta itu sangat dikenal oleh leluhur-leluhur Bali dan Jawa khususnya, serta mendapat perhatian penting didalam praktek-praktek spiritual masyarakat Jawa maupun Bali. Cerita ini di Jawa disebarluaskan oleh para Dalang lewat ceritacerita pewayangan dan dikenal sebagai adegan Dewa Ruci. Pendeta Drona dalam cerita pewayangan India mendapat gelar Acarya. Seorang Guru biasanya mendapat sebutan atau julukan “Acarya”.
Seorang Acarya di dalam berbagai literatur kuno Sanskerta disebutkan sebagai beliau yang patut di ikuti oleh siswa-siswa di di dalam usaha mengembangkan spiritualnya. Acarya berarti beliau yang memberikan ajaran-ajaran spiritual kepada muridnya lewat contoh-contoh tingkah laku yang beliau lakukan sendiri. Dalam artian bahwa apa yang beliau ajarkan, telah dilakukannya atau dilaksanakannya matang-matang. Beliau tidak lagi hanya berteori, sedangkan dirinya sendiri tidak melakukan apa-apa.
Kitab suci “Wahyu Purana” menjelaskan perihal kata Acarya sebagai beliau yang telah menguasai sari-sari kitab suci, mengajarkan tujuan utama kitab-kitab suci tersebut, mengajarkan siswa-siswa untuk mematuhi aturan-aturan yang disebutkan didalam kitab suci dan mengajarkan kepada siswa-siswa spiritualnya untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan sesuai dengan petunjuk-petunjuk kitab suci.
Orang yang sudah menyandang gelar Acarya tidak akan lagi menjadi buah bibir masyarakat di dalam tingkah laku yang menyimpang dari ajaran-ajaran kitab suci. Memang sekarang ada kecendrungan kata acarya menjadi begitu murah. Gelar acarya tidak lagi memberikan getaran kewibawaan seperti zaman dahulu lagi. Sebab, ia bisa didapatkan dengan begitu mudah, tanpa memperhatikan kemampuan spiritual dan karakter. Yang diutamakan hanyalah suatu masa tertentu dan kecerdasan. Di beberapa tempat di India, gelar acarya juga “diberikan” oleh diri sendiri. Hal ini memang “mengaburkan” keberadaan para acarya yang memang benar-benar memenuhi syarat dan bonafid. Terkadang, para acarya yang mengutamakan kecerdasan otak, mempunyai kecendrungan mencari “kepuasan” di dalam mengkritik yang lain atau mendebat yang lain. Tentu saja ia adalah sebuah kecendrungan yang memperbesar keakuan palsunya dan tanpa disadari telah “mengikis” gelar acaryanya.
Bersambung...
(Darmayasa)
DIVINE LOVE/100205
Menyambut Masalah Bersama Guru Sejati
Tidur Bersama Tuhan
Memetik Bunga dan Buah dari Meditasi Angka



