Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Kasih Guru Dalam Segala Keadaan (II)

Sat, 11 Dec 2021, 14:38:26, 1130 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam Kasih,

Nah sekarang kita lanjutkan ke bagian kedua dari kalimat tadi, yaitu hubungan antara Guru dengan murid. Pada kalimat ini, sang Gurulah yang aktif menjalin hubungan dengan muridnya. Dalam hal ini, Gurulah yang aktif memulai menyambung hubungan dengan muridnya. Guru akan sibuk menghubungi muridnya entah itu lewat email, lewat sms, lewat telephone, lewat surat dan lain-lain.

Dalam hal ini, Guru tidak akan mempertimbangkan dan memperhatikan lagi mengenai harga dirinya. Beliau hanya menyimpan satu tujuan, yaitu untuk menyelamatkan sang murid dan membawanya kembali ke jalan spiritual, serta tidak membiarkan muridnya sibuk memoles diri dengan lumpur duniawi dan bersorak-sorai palsu menganggap diri sudah berhasil dan sukses dalam hidup. Sebab dalam berlepotan lumpur duniawi sang murid tidak akan mampu melihat apa yang baik dan benar serta apa yang tidak baik dan tidak benar, apa yang ada di jalan spiritual dan apa yang tidak di jalan spiritual. Murid tidak akan mampu terbuka mata spiritualnya untuk melihat semua itu.

Dan kalau Guru datang dengan kata “Jangan” serta “Tidak,” maka sang murid malah akan lebih lelap di dalam jalan MAYA yang sedang ia tempuh. Maya artinya kepalsuan. Ya..., sang murid yang sedang tersenyum nyengir palsu, ia tidak akan mampu melihat kebenaran. Untuk itulah sang Guru datang mengingatkannya, berkali-kali, berkali-kali dan secara perlahan... bagaikan orang membuat periuk tanah..., akan sangat pelan dan berhati-hati... Salah sedikit periuk akan pecah... dan akan sulit memperbaikinya lagi...
Kehilangan murid karena lelap di dalam lumpur duniawi adalah kehilangan terbesar bagi seorang Guru yang mencintai/mengasihi muridnya.

Tetapi, bagi Guru yang mencintai uang muridnya saja, maka kehilangan seperti itu tidak akan berpengaruh apa-apa dalam batinnya, bahkan ia akan lebih membujuk muridnya untuk tetap berada di dalam kubangan lumpur, dengan berbagai pujian agar sang murid bertambah lelap... tertidur dalam lumpur...

Kadangkala..., Guru akan kelihatan seperti pengemis di hadapan sang murid... Guru tidak akan peduli... karena beliau sudah tidak lagi ditangkap oleh harga diri palsu, beliau sudah terlepas dari rasa aku... Tetapi, tujuan tetap dipegang ajeg/teguh...., yaitu memberikan jalan spiritual kepada muridnya... Sebab, kebahagiaan sejati..., kebahagiaan yang benar hanya ada pada jalan spiritual dan bukan didapat dalam kerlap- kerlip kepuasan indria duniawi.

Dari kedua hubungan tersebut yang sesungguhnya satu, yaitu Hubungan antara Guru dengan murid dan hubungan antara murid dengan Guru. Apabila keduanya telah mencapai puncaknya, maka hubungan tersebut akan menjadi satu. Dalam keadaan seperti itu, tidak akan lagi ada murid dan tidak akan lagi ada Guru. Guru adalah murid dan murid adalah Guru, karena mereka sudah menyatu, sehingga bahkan seringkali ciri-ciri badan pun akan mendekati kesamaan... bukan hanya kesadaran dan tingkah lakunya saja yang sama atau mirip...

Nah jika yang terjadi adalah murid yang mengadakan pendekatan lebih banyak, maka akan terjadi kecenderungan murid itu dapat lenyap, secara lambat atau cepat. Tetapi, jika Guru yang lebih aktif mengadakan pendekatan, maka jalan itu adalah jalan yang paling aman. Dalam keadaan tersebut tidak ada lagi bahaya bagi sang murid hingga ia dapat "terlepas" dari Gurunya. Ibaratnya kalau seorang pencuri memegang tangan polisi, maka setiap saat ia akan mudah terlepas atau melepaskan diri. Tetapi, jika tangan polisi yang mencengkeram tangan pencuri, maka ia tidak akan dapat melepaskan dirinya begitu saja dengan mudah.

Begitulah, apabila seorang murid beruntung mendapatkan Guru-Kripa, yaitu karunia tanpa sebab dari seorang Guru spiritual, maka ia akan terjamin untuk tetap bisa menempatkan dirinya di dalam jalan spiritual. Ia bahkan akan merasa kesulitan untuk meninggalkan hidup spiritual untuk kembali ke jalan penuh lumpur dan hidup dalam kerlap-kerlip suka-duka akibat pengaruh dari kehidupan di dunia material.

Jika bukan karena kehidupan terdahulu seseorang mendapatkan kesempatan pergaulan Guru pada saat ini, maka dalam hidup ini ia hendaknya berusaha mengatur serta menyempurnakan dirinya di dalam jalan kebaikan, kesucian, kebenaran dan spiritual, demi menciptakan kesempatan untuk mendapat "lirikan" dari Guru  spiritual yang sejati... demi Guru Kripa....

Demikianlah akhir dari renungan tentang Hubungan Guru dengan Murid kali ini...

Sriguru...
(Darmayasa)
DIVINE LOVE/120105

 



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments