Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Hidup Hanya Untuk Mengkhayal

Sat, 20 Mar 2021, 10:43:52, 1188 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam Kasih,

Keturunan Dinasti Moghul terakhir bernama Bahadur Shah Zafar, menjelang kematiannya sempat berpikir yang jernih, yang kita semua barangkali patut memakainya sebagai-bahan-renungan. “Bahadur Shah Zafar bersusah payah memohon umur panjang dari Tuhan Yang Maha Esa akhirnya dapat umur hanya empat hari.” Tetapi, umur yang empat hari tersebut, dua hari ia boroskan di dalam harapan - harapan dan dua hari dihabiskan dalam penantian....

Sering tanpa sadar kita mengabaikan keutamaan mendapatkan kesempatan hidup menjadi manusia dan terlena dalam berbagai kenikmatan dan kesenangan hidup, dipenuhi uang, tokonya tetap didatangi turis, pesanan-pesanan tetap berdatangan, anak-anak pada manis-manis dan manja-manja (walau jika kita jujur melihatnya anda belum memberikan apa sejatinya yang mereka butuhkan). Tabungan di bank juga masih baikbaik, dan seterusnya dan seterusnya. Kita menjadi alpa dan menganggap diri akan terus dalam keberadaan, akan terus dapat menikmati berbagai kesenangan duniawi sebagaimana dinikmati sekarang, dan yang pasti bagi kita adalah kita beranggapan kematian tidak akan pernah datang pada kita. Orang lain mungkin didatangi oleh kematian tetapi kita tidak. Kita tidak akan mati, kita akan hidup terus sampai dunia kiamat. Tanpa sadar itulah kesadaran yang mencekoki jiwa kita. Itulah yang menyebabkan kesadaran menjadi tertutupi oleh khayalan dan-kita-tidak-mampu-melihat-kebenaran.

Renungan di atas datang kepada keturunan terakhir sultan besar Dinasti Moghul. Datang terakhir setelah ia terlambat memanfaatkan hidupnya ke jalan yang lebih tepat. Hal yang sama, tentunya tidak akan kita inginkan terjadi pada diri kita. Kita tidak menginginkan terjadi pada teman-temankita, kita tidak menginginkan terjadi pada keluarga kita. Oleh karena itulah kita berusaha menyebarkan renungan ini kepada sebanyak-banyaknya orang atau kenalan, tanpa pamrih apa-apa kecuali mengharapkan agar kenalan kita tersebut menyempatkan waktu merenungkan hal ini dan pelan-pelan mempersiapkan kesadarannya untuk memasuki kesadaran spiritual. Sebab, hanya dengan kesadaran spiritual sajalah orang akan siap menyambut berbagai kegagalan dan keberhasilan hidup. Orang yang mantap dalam spiritual akan siap menghadapi keadaan apa pun, keadaan yang baik maupun keadaan yang tidak menguntungkan bagi dirinya.

Jika ia telah memiliki kesadaran indah seperti itu maka ia akan menghargai dengan baik kesempatan hidup menjadi manusia ini. Ia tidak akan memboroskan kesempatan hidup menjadi manusia untuk mengulangi kegiatan binatang. Ia tidak ingin menghina hidupnya dengan cara memboroskannya di dalam kegiatan kebinatangan. Ia tidak ingin disetarakan dengan binatang. Ia tidak ingin menjatuhkan nama orang tua dan leluhurnya bahwa orang-orang akan mengejeknya dengan sebutan binatang berkaki-dua. Kepentingan hidup sebagai manusia dan kesulitan mendapatkan kesempatan hidup menjadi manusia, selain berharga, ia juga sangat singkat. Ya.., hanya sekejap sekerlapan kilat, dan itupun masih diboroskan dalam berbagai kebohongan dan kehidupan palsu di dalam kegelapan,-kemarahan-dan-kemalasan.

Bahadur Shah mengatakan dirinya bersusah payah memohon waktu perpanjangan hidup dari Tuhan. Ia dapatkan hanya empat hari. Tetapi, menjelang ia meninggal barulah menyadari bahwa hidup yang empat hari tersebut ternyata ia boroskan begitu saja, yaitu dua hari ia lewatkan untuk mengembangkan asaan-asaan, harapan-harapan, khayalan-khayalan. Ia mengharapkan dan mengkhayalkan berbagai hal, dan sekian persen hidupnya diboroskan untuk itu, untuk mengkhayalkan dirinya berada di dalam berbagai keberhasilan, mengkhayalkan dirinya dipenuhi oleh kesenangankesenangan duniawi. Dua hari dari waktu hidup yang empat hari ia telah boroskan dalam mengembangkan berbagai khayalan dan harapan. Selainnya, dua hari lagi ia boroskan atau habiskan di dalam penantian. Ya…,penantian-dari-datangnya-asaan-asaan-tersebut.

Kapan seseorang meninggalkan asaan dan penantian, kapan orang tidak memboroskan waktunya di dalam asaan dan penantian, saat itu ia akan mempunyai kesadaran untuk memanfaatkan kemuliaan hidup menjadi menusia ke dalam pencarian sang diri, ke dalam kesibukan pelayanan dan ke dalam pengenalan Sang Diri Sejati. Untuk itulah kita melakukan meditasi dan untuk keberhasilan itulah kita perlu menjaga keteraturan pelaksanaan meditasi angka kita ini.

Semoga kita semua diberkahi…

(Darmayasa)

E/050405



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments