Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Demi Penyempurnaan Diri Dan Bukan Demi Pengetahuan Saja (II)

Mon, 23 May 2022, 11:21:26, 1197 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam kasih,

Pekerjaan yang berat adalah dalam menghalau cobaan, godaan, serta memberikan hasil meditasi. Sedangkan pekerjaan duduk menekuni medang adalah pekerjaan sangat ringan dan sederhana, tanpa mengeluarkan keringat. Jadi yang ringan kita dapatkan, sedangkan yang berat diambil alih oleh sang guru sejati. Sebagaimana halnya dengan tugas Arjuna yang hanyalah ajeg dan teguh di dalam duduk bertapa, begitu pula kewajiban pe- medang sejati adalah untuk tetap rajin latihan, tekun, jujur, sambil berusaha tanpa lelah untuk menghilangkan kekurangannya sedikit demi sedikit, demi mempersiapkan dirinya agar memiliki kwalifikasi menjadi manusia sejati.

Nah, untuk mengarah kepada tujuan untuk menjadi manusia sejati, orang memerlukan adanya godaan dan cobaan, mulai dari yang ringan, hingga godaan yang berat. Arjuna telah mengatasi godaan dan cobaan ringan-ringan yang jumlahnya sangat banyak. Begitu pula diantara pemedang, banyak yang telah berhasil mengalahkan godaan dan cobaan ringan-ringan yang jumlahnya tidak terbatas. Lalu sekarang kewajibannya adalah, secara pelan dan dengan tekad yang tetap, menghadapi cobaan dan godaan yang berat-berat. Tidak ada pilihan lain dalam hal ini. Dan bagi seorang pemedang sejati, ia tidak akan menginginkan dirinya "escape" alias melarikan diri dari cobaan serta godaan berat-berat tersebut.

Walaupun para siswa menginginkan "escape" dari ujian matematika, tetapi ia tetap harus duduk dan harus lulus. Begitulah, kita jangan konsentrasikan kesadaran pada bentuk dan jenis godaan serta cobaan.

Konsentrasi harus kita arahkan pada bagaimana bisa duduk melaksanakan tapa dan tetap berlatih meditasi angka dengan baik serta teratur, sambil menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk secara perlahan, serta tidak terpancing untuk menjadi penikmat.

Sebagaimana Arjuna yang tidak terpancing menjadi penikmat dari 7 bidadari surga, dari 7 ratu tercantik yang ada di surga, begitu pula hendaknya kita jangan terpancing untuk menjadi penikmat di dalam meditasi angka. Jadilah orang yang melakukan meditasi angka, dan bukan orang yang menikmati meditasi angka. Nanti akan muncul banyaknya dan tidak terhingga jumlahnya "tawaran" kenikmatan sepanjang jalan penitian meditasi angka.

Menjadi penikmat yang baik sama sekali tidak diperlukan, sebab ia akan mengantarkan kita pada kegagalan tapa. Inilah tapa seorang pemedang sejati. Ia bertapa sepanjang hidupnya. Ia tidak bertapa untuk menjadi penikmat, melainkan untuk melewati kenikmatan / penikmatan. Kenikmatan sejati seorang pemedang adalah kenikmatan yang didapat dari melakukan pelayanan kepada orang atau makhluk lain. Kapan ia mengajarkan meditasi angka, lalu orang tersebut dapat merasakan hasil-hasil dalam bentuk kesehatan membaik, menjadi lebih tenang, dan lain-lain, maka di sanalah kenikmatan seorang pemedang sejati. Sibuk meditasi untuk diri sendiri bukanlah meditasi. Tetapi melakukan pelayanan adalah meditasi yang sesungguhnya.

Ketika tiba saatnya orang berhasil dalam melewati cobaan dan godaan satu persatu, mulai dari yang ringan sampai yang maha berat, maka ia akan memasuki suatu area yang khusus, dimana hanya orang-orang tertentu saja yang berhak memasuki area terlarang. Yaitu hanya untuk manusia sejati, seorang pemedang sejati.

Setelah Arjuna memasuki level atau area tersebut, ia kemudian mendapatkan berbagai jenis senjata sakti tanpa tanding. Senjata sakti yang sekali dilepaskan harus mengena pada sasarannya. Disana pulalah seorang pemedang sejati akan memperoleh segalanya. Apa pun yang ia perlukan akan ia dapatkan. Dan semua yang ia dapatkan tersebut tanpa ada faktor kegagalan. Bagaikan orang mendapatkan kupon-kupon lotre. Ribuan kupon ia dapatkan dan ribuan kupon itu memberikan hadiah luar biasa.

Di sanalah kesempurnaan yang sebenarnya, dan bukan dalam mendapatkan senjata-senjata kecil-kecil yang ditawarkan pada awal-awal kita melakukan meditasi. Senjata-senjata kecil yang hanya merupakan pancingan semata, untuk mengantarkan kita pada kegagalan, yang menyebabkan kita terjatuh berkali-kali dengan jidat yang sudah benjol, namun kita mengatakan diri sudah maju. Duh aku sudah maju....

Demikianlah..., obrolan ini kita hentikan dengan catatan kaki: Bahwa seorang pemedang sejati, hendaknya belajar banyak dari perjalanan teguh seorang Arjuna yang menjadi pilihan para Dewa. Bukan mencari keberhasilan agar dikagumi dan dipuji oleh orang lain, tetapi buatlah diri kita agar dikagumi dan dipuji oleh para Dewa.

Untuk itu, tentu saja sekarang ia harus mengadakan penelitian ke dalam dirinya, segala kemuliaan apapun yang diperlukan untuk menghias diri seorang pemedang sejati. Ia harus menuju kepada hiasan-hiasan sifat mulia seorang pe-medang sejati, dan bukan menuju pada hiasan pemuas indrianya yang akan mengantarkannya kepada kejatuhan spiritual.

Sriguru

(Darmayasa)
DIVINE LOVE/040406



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments