Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Dari Kegelapan Menuju Jalan Terang

Sat, 26 Jun 2021, 12:04:38, 1213 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam kasih,

Jika kita mengamati seekor Tokek yang hanyut di dalam aliran deras air sungai atau air bah..., maka kita akan melihat tangan dan kakinya sabot sana, sabot sini, menggapai ke sana dan kemari, dan semua dilakukan tanpa arah serta tanpa alasan. Dia akan mengap-mengap, dan dia ingin terbebas dari kesakitan.

Ketika kita berjalan di dalam kegelapan, pada kegelapan malam yang sangat gelap, kita sama sekali tidak akan melihat arah, tidak akan mampu mengenali mana Timur dan mana Barat. Tidak mampu melihat apa-apa. Kaki akan melangkah setapak demi setapak ke depan atau ke kanan-kiri dan tangan terbentang lebar meraba kesana-sini. Kita tidak bisa melihat apa-apa dan tidak mampu mengenali apa-apa.

Seperti itulah keadaan kita jika dilihat secara mental spiritual..., kapan kita belum berhasil membebaskan diri dari sifat mementingkan diri sendiri. Sifat mementingkan diri sendiri merupakan kecenderungan negatif yang lumayan halus tetapi serius. Sebab, ia akan secara tegas menjauhkan atau memisahkan orang dari Kebenaran dan Kesucian.

Perlahan…, tanpa terasa…, dan tanpa kita sadari, ia akan berkembang menjadi sarang “destinasi” atau tujuan menyejukkan bagi berbagai dosa, melewati “titian” alias jembatan keinginan dan keserakahan.

Keadaan mental spiritual kita pada saat itu sangat persis, dan tiada jauh bedanya dengan keadaan sang Tokek hanyut, atau perjalanan menggapai-gapai di kepekatan malam. Benar-benar Suatu keadaan yang sangat menyedihkan, dan suatu pemandangan yang memprihatinkan bagi mereka yang telah tidak lagi berada di dalam kegelapan yang sangat gelap tersebut.

Jembatan keinginan dan keserakahan akandengan segera mengantarkan dosa-dosa menuju “gubug” mementingkan diri sendiri. Orang yang telah terlelap di dalamnya, lelap di dalam keadaan mementingkan diri sendiri tersebut, maka ia akan menarinari di dalam berbagai khayalan sukaduka. Ia akan berada hanya di dalam lingkungan “kebenaran” suka-duka palsu tersebut. Ia tidak melihat keindahan lain selain itu. Ia berpuas hati dalam keadaan berguling-guling disaat mengikuti putaran kencang roda suka-duka.

Dalam perputaran roda suka-duka, ia akan tertawa terbahak-bahak ketika ia berada di atas, dan sebaliknya ia akan menangis keras ketika ia berada dibawah.

Selain perputaran roda suka-duka, ia juga tidak mampu melihat dunia yang lain lagi. Begitu pula dalam penilaian terhadap orang lain, ia akan menganggap orang lain itu sebagai orang hebat, bijaksana, atau sukses hanya ketika orang itu tertawa, dan demikian pula sebaliknya.

Bagi seorang pencari atau penekun spiritual, maka ia akan sangat berhatihati di dalam hal ini. Ia akan berusaha dengan segala kemampuan disertai disiplin spiritualnya, terutama kepasrahan penuh tanpa syarat kepada-NYA untuk melepaskan diri dari jembatan keinginan dan keserakahan yang menjadikan eksisnya sang musuh berupa sifat mementingkan diri sendiri. Menurut petunjuk dan nasihat orang-orang tua yang bijaksana, ketiadaan sifat mementingkan diri sendiri berarti keberadaan Sang Supreme Power, Tuhan Yang Maha Kuasa…

Semoga GURU Sejati (Tuhan Yang Maha Esa) berkenan membukakan tabir kegelapan dari jalan kita di depan...

(Darmayasa)
DIVINE LOVE/100105



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments