Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Berpuas Hati Dalam Segala Keadaan (II)

Fri, 08 Apr 2022, 11:30:24, 1112 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam kasih,
   
Dalam menerima keadaan saat ini, sebisanya agar kita selalu berusaha untuk selalu berkonsentrasi pada praktek medang dan berpuas hati dalam segala keadaan yang kita terima saat ini. Terimalah susunan yang ada di depan kita sebagai susunan terbaik untuk diri kita. Barangkali orang lain memang lebih baik kehidupannya jika dibandingkan dengan kita. Tetapi bagi kita, yang terbaik adalah apa yang saat ini ada di depan kita. Susunan apapun yang kini ada di depan kita.., maka itu adalah anugerah yang terbaik untuk kita.

Kita harus mengertikan bahwa inilah hadiah terbaik untuk kita. Bahwa di sinilah kita harus mensyukuri kerunia Tuhan Yang Maha Pengasih. Renungkanlah dalam batin, “Bahwa saya tidak ditempatkan lebih buruk lagi daripada situasi ini dan di sinilah batu loncatanku yang terbaik. Barangkali kalau aku mendapatkan berkah keadaan yang kita anggap lebih baik, ternyata yang lebih baik itu akan memberikan hasil lebih buruk untukku, lalu apa gunanya bagiku?” 

Damai, puas dan berpuas hati di dalam suka maupun duka, merupakan batu ujian bagi pemeditasi angka. Juga perlu disadari bahwa diantara kita ini, hampir semuanya, tidak terkecuali..., hampir semuanya tidak siap menerima hal-hal yang lebih baik dan lebih nikmat. Kita harus yakini dan harus mengakui hal ini dengan sejujurnya, bahwa kita tidak siap menerima hal-hal yang lebih baik daripada apa yang sedang kita hadapi di hadapan kita saat ini.

Memanfaatkan kesempatan demi kesempatan yang telah diberikan saat inipun kita tidak mampu. Apalagi jika kita diberikan berkah kesempatan luar biasa yang lain, yang barangkali akan langsung mengubur diri kita di dalam kesemrawutan dan berujung pada kejatuhan. 

Banyak orang yang malah jatuh setelah mendapat kesempatan lebih baik. Banyak orang yang menjadi lebih ngawur setelah mendapatkan kedudukan menjadi boss, atau setelah menjadi pejabat tinggi. Lebih mengenaskan lagi, banyak orang jatuh justru setelah di-inisiasi menjadi pendeta. Ya... ia bahkan jatuh dari jalan spiritual, jatuh dari karakter justru setelah menjadi pendeta.

Hal seperti itu seringkali terjadi. Dan contoh mengenai hal tersebut pasti banyak dapat kita lihat pada apa yang terjadi di masyarakat sekitar kita, terlepas dari jenis kelompok masyarakat manapun, sebab kejadian ini bisa terjadi di dalam kelompok agama atau suku mana pun di dunia. 

Jadi, jangan pernah mengkhayalkan hal-hal yang lebih baik untuk diri kita, sedangkan kita sedang berdiri di sini, sedang menghadapi kesempatan yang belum kita manfaatkan dengan lebih baik, atau secara lebih sempurna. 

Kita jangan mengangankan hal-hal yangn tidak mampu kita jangkau..., yang kita bayangkan akan memberikan kenikmatan atau kebahagiaan lebih dari apa yang sekarang kita sudah dapatkan.

Kadangkala, ada orang yang mengkhayal..., “Ah… seandainya aku memiliki istri seperti dia...., atau, Ah… seandainya aku mempunyai suami seperti dia..., atau, Ah… seandainya aku punya mobil..., seandainya aku.... dan seterusnya ... dan seterusnya….”

Ia tenggelam di dalam berandai-andai, ia tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengingkari kenyataan. Sedang berusaha tidak menerima kenyataan yang sedang ia hadapi. Sedang meremehkan atau bahkan mencela berkah dari Tuhan YME yang ada di tangannya saat ini.

Oleh karena itu, seorang pemedang akan selalu berpuas hati di dalam segala keadaan yang ada didepannya saat ini dan ia tidak akan mengkhayal yang bukan-bukan. Hanya dengan menerima susunan yang ada di depannya sajalah, maka ia akan dapat melangkahkan kakinya dengan pasti, dan itulah jalan yang pasti untuk maju di jalur spiritual.

Berpuas hati adalah pilihan terbijak dalam usaha untuk meraih hidup tenang dan damai di dalam meniti jalan spiritual. Kalau tidak, maka kita akan selalu berada dalam kecemasan yang tidak berguna. Selalu dalam suasana yang serba cemas, dan kekhawatiran itu akan menjauhkan kita dari Tuhan YME.

Kapan kita tidak berpuas hati dalam susunan yang ada di depan kita, maka pada saat itu juga kita perlu mengertikan bahwa kita telah keluar dari perhatian Tuhan sekian langkah. Menjauh sekian langkah lagi…, menjauh lagi dan lagi.

Berpuas hati boleh dikatakan merupakan jaminan kemajuan spiritual. Dan dalam banyak hal, kepuasan hati itu sendiri adalah puncak dari kemajuan seseorang dalam meniti jalan Spiritual. 

Dalam bahasa Sanskerta, berpuas hati ditunjukkan dengan kata Santustah. “San” atau Sam artinya Sepenuhnya, sedangkan “Tusta” artinya berpuas hati. Jadi, Santusta berarti berpuas hati sepenuhnya. Nah, suasana kesadaran seperti itulah yang hendaknya selalu diharapkan oleh seorang pe-meditasi angka. Dengan mana ia akan tampak selalu berbahagia dan selalu tidak tergoyahkan di dalam menerima keadaan suka maupun duka yang tidak tetap ini. Kalau tidak, setiap saat ia akan menghadapi stress, yang didapat karena ulah pikirannya sendiri, yaitu tidak puas dalam segala hal.

Tetapi, ada hal kecil yang perlu diperhatikan dalam hal ini, yaitu kita harus berjuang dan berusaha sekerasnya, sekuatnya, dan sepenuh tenaga dan pikiran untuk mencapai tujuan-tujuan dalam hidup ini. Setelah berusaha seperti itu, namun akhirnya susunan di hadapan kita menjadi lain dari yang kita inginkan, maka disanalah kita harus segera berpuas hati sepenuhnya. Kalau tanpa usaha kita berpuas hati, itu barangkali bahasa atau istilahnya lain bisa kita katakan sebagai sifat berputus asa, atau malas atau malang,  yah.... sekitar itulah....

Tidak akan ada sebutan lebih baik dari pada sebutan-sebutan hina itu untuk orang yang tidak mau berusaha... Dan semoga sebutan seperti itu tidak ditujukan untuk diri kita, bukan untuk mereka yang tekun ber-meditasi angka.

Semoga semua berbahagia…

Sriguru... 

(Darmayasa)
DIVINE LOVE/040206

 



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments