Language Sun, 19 Apr 2026, Malta

Berpuas Hati Dalam Segala Keadaan (I)

Sun, 20 Feb 2022, 10:13:39, 1118 View Administrator, Category : Reflection Series

Reflection Series

Salam Kasih,
 
Sebagai seorang insan yang dilahirkan dalam tangkapan maya di atas mayapada ini,  dimana segalanya..., dari segala arah... dipenuhi dan diselimuti oleh maya. Sudah sewajarnya kita mengertikan bahwa diri kita bukanlah orang yang bebas.

Kita adalah orang-orang yang terbelenggu, terikat kaki tangan dalam ikatan maya, dalam selubungan maya, dalam rantai kepalsuan. 

Itu semua harus kita sadari sepenuhnya setiap saat ketika bermeditasi, bahwa kita perlu mengertikan hal itu. Kita perlu merenungkan terus bahwa kita berada dalam tangkapan dan cengkraman maya. Bahwa kesadaran kita bukanlah kesadaran bebas, kesadaran spiritual, melainkan kesadaran yang lebih banyak kemungkinan dicengkeram oleh kepalsuan, oleh tipuan-tipuan duniawi. 

Berikutnya adalah, bahwa kita perlu mengertikan dunia di luar kita adalah tipuan belaka. Segala sesuatu yang terjadi di sekitar kita tidaklah kebenaran, bukanlah kebenaran, bukanlah hal sejati. Melainkan semua itu hanya kejadian sepintas, dan tidak sejati.

Mereka semua menipu kita dalam berbagai bentuk, ada tipuan kasar dan ada pula tipuan halus. Tipuan halus biasanya berupa segala sesuatu yang indah menarik, menyenangkan, membuat indria-indria kita menemukan obyek penikmatannya dan yang terhalus adalah ketika tipuan tersebut muncul dalam perwajahan agama atau spiritual. Itulah tipuan sangat amat halus, yang lebih-lebih lagi kita harus berhati-hati menghadapinya.

Kemudian diperlukan pengertian atau kesadaran, bahwasanya kita harus menemukan jati diri kita sejatinya dan selanjutnya dipertemukan dengan kesadaran bahwa kita harus tidak tersentuh oleh lingkungan sekitar yang sebagian besar memberikan tipuan maya tersebut. 

Sambil memperhatikan diri sendiri, kebaradaan, kemampuan, kesempatan diri sendiri... hendaknya kita menyesuaikan teknik kita untuk menjauhkan atau menyelamatkan diri dari ikatan-ikatan maya..., dari tipuan-tipuan kepalsuan.

Jadi, sesuaikanlah dengan kesempatan serta kemampuan diri, segeralah langkahkan kaki menuju jalan spiritual. Bersamaan dengan kesadaran untuk mengenal diri sejati, kita juga perlu mengenal apakah tujuan kita sebenarnya, renungkan bahwa akan kemanakah kita? jalan mana yang sejatinya kita harus tempuh?

Dengan pengetahuan seperti itu artinya, setelah kita mengenal tujuan sejati dan jalan sejati..., barulah  kita melangkahkan kaki ke depan dengan penuh kemantapan. Dengan penuh tekad bahwa kita harus maju... meski perlahan tetapi pasti.

Kita harus melangkahkan kaki ke depan demi pencapaian tujuan. Sebab, kalau kita tidak memajukan diri ke depan..., tanah pijakan kita akan runtuh karena tidak kuat menampung beban yang terus-menerus dan kemudian kita akan tertanam di dalamnya, yaitu di dalam reruntuhan puing-puing maya.

Dalam menempuh jalan maju, atau dalam usaha melangkahkan kaki untuk maju, ada beberapa jalan. Kebanyakan orang mengertikan bahwa kita harus melepaskan diri dari lingkungan. Bahwa kita harus menyelamatkan diri dari sekitar kita, dengan cara mengurung diri dan menjauhkan diri, alias lari dari lingkungan sekitar kita, dari lingkungan maya dan bersembunyi dari kehidupan di depan kita, yang kita nggap berbahaya bagi kita.

Tetapi, selain jalan melarikan diri atau menjauhkan diri dari lingkungan sekitar, ternyata ada sebuah jalan yang lebih indah, jauh lebih indah… yaitu jalan pasti dan selamat. Dengan cara kita justru masuk kedalam lingkungan dan bukan lari dari lingkungan sekitar. Tentu saja kita masuk bukan untuk lelap di dalamnya, melainkan masuk untuk keluar.

Itulah yang bisa diberikan oleh Meditasi Angka, yang sedang anda semua praktekkan. Hendaknya konsentrasi kita jangan pada maya, tetapi pada Meditasi Angka. Misalnya, disaat kita sedang berpuasa, hendaknya kita jangan memusatkan konsentrasi pada berbagai jenis makanan yang enak-enak, atau jangan membiarkan pikiran berkonsentrasi pada keadaan bahwa kita sedang berpuasa, sedang menahan haus dan lapar, dan sedang meninggalkan berbagai rasa enak. Jangan... jangan seklipun kita membiarkan pikiran kita berkonsentrasi disana, karena hal tersebut bagaikan menyiram api dengan minyak.

Sebaliknya, usahakan berkonsentrasi pada ketetapan melaksanakan puasa / vrata yang sedang dijalankan, dengan cara memantapkan pengucapan japa atau zikir angka pilihan. Dengan memperhatikan mutu / kualitas japa / zikir yang dilakukan.

Perlu diperhatikan Juga, untuk mengurangi konsentrasi pada jumlah/ kuantitas pengucapan mantram atau angka pilihan, Melainkan…, sekali lagi melainkan,  pada kualitas...  hanya dengan cara itu sajalah, maka kita akan berhasil di dalam menempuh jalan spiritual yang sedang kita jalani.

Nah..., dalam menempuh perjalanan spiritual itu, kita sering akan menghadapi berbagai keadaan/suasana, yang biasanya berisikan hiasan suka dan duka, tawa dan tangis, senyum dan cemberut. Itulah suasana yang akan kita hadapi sehari-hari di dalam menempuh jalan spiritual ke depan.

Diantara suka duka tersebut…, umumnya kita akan lebih banyak didatangi oleh duka, cemberut atau tangis. Suka... Duka... Duka…, Suka... Duka.... Duka... Duka..., Suka...duka... duka… duka… dan begitulah seterusnya.

Keadaan kita sangat mirip seperti orang yang tenggelam di air, sedangkan kita tidak bisa berenang. Ia akan lebih banyak tenggelamnya dibandingkan dengan timbul untuk mengambil nafas. Ia akan muncul sekejap mengambil nafas sekian detik...., hanya untuk tenggelam lagi sekian menit....

Begitulah suasana tenggelam-timbulnya kehidupan kita di dalam suka dan duka, dimana pada kenyataannya, yang harus kita terima adalah lebih banyak duka daripada suka-nya. Dalam  keadaan ini..., jalan paling indah yang patut kita terapkan adalah agar kita selalu berusaha berpuas hati dalam segala keadaan yang sedang kita hadapi.

Bersambung...

Sriguru,
(Darmayasa)
DIVINE LOVE/040106

 



Sat, 06 Jul 2024 Tidur Bersama Tuhan


Comments